There are never ending stories about the magic of this city. I love Bali too, they have the same unique tradition, but Yogya is different. For me as a Javaness Yogya is better than Bali from the food and beverages aspect. Yogya coulinary is richer and more delicious than Bali. Talking about tradition and coulinary, I must share about this special resto, "Bale Raos".

photo by Sunu 2008
As for as I know, Bale Raos is the only resto INSIDE the palace / kraton. There are similar resto AROUND the palace. May be they have the same menu with Bale Raos, but I believe that Bale Raos have the original recipe and formally managed by Kraton Yogya. From http://www.yogyes.com/ and others sources I took Bale Raos authentic menu:
- Bebek Suwir Suwir (fave of Sultan HB X): Special menu of Kraton Yogyakarta, made from slices of duck meat which is served with fried pineapple slices and rasped kedondong sauce.
- Semur Piyik (fave of Sultan HB IX): Unique dish made of pigeon.
- Urip Urip Gulung (fave of Sultan HB VII): Fillet freshwater catfish which is rolled then roasted and served with mangut sauce.
- Sanggar (fave of Sultan HB VIII - HB X): Original menu from Kraton Yogyakarta, made from sliced beef with the spice flavor, which is roasted with coconut fiber and held by bamboo.
- Soup Timlo (fave of Sultan HB X): Classic Javanese soup which is the combination of ginger and ketchup, along with various combination of ingredients.
- Beer Jawa (fave of Sultan HB VIII): Original drink from Kraton Yogyakarta which is made from ginger, secang wood, clove, citrus fruit, etc.
- Bestik Lidah: The variation of tongue beefsteak with thick sauce, served with pierced potato and serces (a kind of vegetable stoop, favourite food of Sri Sultan HB IX).
- Bestik Jawa: Grinded beef with sweet gravy served together with potato puree and sauted vegetables.
- Bebek Ungkep Goreng: Duck dish which is boiled in coconut sugar with spices and fried sweetly.
- Beer Pletok
- Manuk nom (fave of Sultan HB VII & VIII): a kind of puding from 'tape ketan' (I don't know how to translate it to english..:))
- Lontong kikil (fave of Sultan HB X)
- Prawan Kenes (fave of Sultan HB IX): banana grilled by coconut milk
- Tapak kucing: banana fried served with cinnamon powder and brown sugar
- and others delicious and historical foods
Our fave are: lontong kikil, bebek suwir-suwir. We are also crazy about Bale Raos snacks such as: "Prawan Kenes" and "Tapak Kucing". Try it! We also crazy about their beverages such as: "Wedang Adu Limo" (drinks with 5 spices like ginger, javaness sugar, cinnamon etc).
sources: http://www.yogyes.com/
FOOD : Good - Very Good
BEVERAGE : Good
CLEANESS : Good (Average for the toilet)
NUANCE : Good
SERVICE : Average
PRICE: Good (cheap comparing to similar cultural & historical nuance resto at Yogya)
RECOMMENDATION: Good
The Bale Raos address is Jl. Magangan Kulon No.1 Kraton Yogyakarta, Phone /Fax: +62 274 415550.

photo by Sunu 2008
Some says that the cuisine historical value in Bale Raos is undeniable. Do you want to be a king just for 1 or 2 hours? So let's go to Bale Raos. I guarantee you'll be a satiated king.
Ada sebagian yang kami tuliskan rekomendasi kami, berdasarkan penilaian pribadi, yang sudah pasti sifatnya relatif, karena kita bukan robot yang dicetak sama persis oleh Allah kan?
Banyak yang mo ditulis, tapi tangan cuma 2, waktu cuma 24 jam @ hari, kerjaan numpuuuuk, ngurusin 2 teroris yang hyper active juga nggak ada abisnya. Di kepala sudah menari2 mo nulis Sabang, Tarakan, Madinah.....entah kapan....
For me writing this blog is not an obligation, it's a passion. So I don't like to be pushed to write. Enjoy aja lah.
Kecil tapi cukup nyaman, dan yang jelas hijauuuuu banget. Liat aja gambarnya:


Hijau memang jadi andalan hotel ini. Tamunya cukup banyak turis asing, tapi tamu lokal pun cukup banyak. Panasnya udara Yogya, yang kadang ngalahin panasnya Semarang atau Jakarta (menurutku loh) seakan mak nyus ilang begitu masuk hotel mungil ini. Ditambah lagi memang ada kolam renang (yang juga mungil) nambah nuansa oase. Uh serasa deh.

Lokasinya juga cukup strategis, di daerah sekitar Prawirotaman. Persisnya di Timuran MG.III/103 Yogyakarta 55153, Phone: +62 274 373482, +62 274 388378. Untuk webnya klik http://www.dutagardenhotel.com/
Lokasinya cukup tenang karena nggakdi pinggir jalan besar, agak masuk ke dalam (+/- 100 meter). Menguntungkan karena nggak kena ributnya klakson mobil dan motor. Dan untuk turis asing mungkin suka karena mereka ikut ngerasain nuansa perumahan di Yogya. Tapi ada nggak enaknya juga, ada kalanya sewaktu menjelang lebaran aktivitas RT/RW sekitar cukup mengganggu suaranya. Masyarakat Yogya dikenal masih guyub dan aktif melakukan berbagi kegiatan seperti takbir keliling yang butuh persiapan warganya.
Jangan keliru dengan Duta Guest House dan Home Stay, manajemennya sama. Better tanya dulu kalau mau reserve. Kalau mau nyaman pake hotelnya, tapi kalau mau bergaya backpackers ya monggo nyoba yang guest house.
Sekilas ini penilaian kami terhadap hotel ini (sama seperti posting kuliner, kami pake skala 5 Very Good - Good - Average - Bad - Very Bad):
KAMAR : Average (note: untuk lemari agak bersih, kadang bau apek, tapi kamar dan kamar mandi OK)
MAKANAN : Bad (standar banget)
PELAYANAN : Average
HARGA : Good (kamar cukup murah, laundry murah bo!)
REKOMENDASI : Average
Kalau nginep di ana, jangan lupa ampein salam untuk ikan2nya ya....

Ngebayangin nggak kalo tupainya dijadiin tongseng atau dioseng2? Heeek....! Kasian dong! Ih, kejem! Entah komentar apa lagi yang keluar. Tapi itu kenyataan yang bisa didapat di Tembi, sebuah desa di Bantul, Yogyakarta. Dan kenyataannya tongsengnya memang mak nyus.....
Dulu rasanya Tembi cuma nama desa. Belakangan ISI (Institut Seni Indonesia) ada di Bantul, dekat Tembi, yang mau tidak mau membuat daerah sekitar ikut bergerak mengikuti geliat ISI. Ada Pasar Seni Gabusan dekat Tembi juga. Beberapa tempat sejenis resort muncul. Ada D'Omah dan mungkin ada yang lainnya lagi. Tapi di mata kami "Tembi House of Culture" / "Tembi Rumah Budaya" tampil beda. Ini salah satu icon budaya yang 'diletakkan' di Bantul. Ada bale rupa, bale karya, bale inap plus restonya namanya "Waroeng Dhahar, Pulo Segaran". Jadi Tembi Rumah Budaya punya banyak aktivitas, nggak melulu tempat bobok dan leren. Ini salah satu wajah "Tembi Rumah Budaya"yang aku ambil dari web mereka:

Sudah lama kami ingin ke "Tembi Rumah Budaya" dan nginep di sana, tapi belum sempet juga. Di akhir 2009 kami sempetin lunch di sana. Jam 14.00 masih keitung lunch nggak ya? Lha wong telat gara2 ubyak ubyek di Kasongan. Sampe di Tembi, rasa panas yang membakar sejak di Kasongan mulai sirna. Hmmm adem rasanya liat joglo2 tempat bale inap tersebar di depan mata kami. Kami pun nongkrong di restonya. "Mbak menunya dong!". Dan waktu baca menu itulah Ava (abg kami) berteriak histeris "Omg, bajingnya diapaiin?!!!"......Ha..ha.. "Waroeng Dhahar, Pulo Segaran" Tembi memang menyediakan menu2 yang agak unik buat kami yang katrok dari Jakarta-Bekasi ini. Cukup banyak menu tentang bajing, selain kambing yang sudah umum digulai, disate dan diapain lagi.
Selain tupai, menu Warung Dhahar di Tembi ini juga menyajikan "Gule Banyak". Artinya bukan gule dalam jumlah banyak, tapi gule angsa! Ho...ho...angsa yang elegan menari2 di atas danau itu digule? Sekali lagi Ava menjerit histeris, "argghhhh....!!!!!". Heeeh, Dewi Sarasawati juga bakalan marah besar gara2 angsa kendaraan suci sang dewi digule begitu....
Ada beberapa menu andalan dari Warung Dhahar ini antara lain: Gule Banyak, Goreng Banyak, Bakaran Banyak, Tongseng Manuk Emprit, Oseng-oseng Manuk Emprit, Tongseng Bajing Lumpat, Sup Bajing, Wedhus Gembel Cemeng, Wedhus Gongso, Sup Pitik Kampung, Carang Gesing, Pisang Goreng Gula Aren, Lumpia Pitik, dlllllllll.
Sudah jelas Ava, Bima and me nggak akan tega makan tuh bajing or angsa. Tapi si mas malah tergiur, jadilah "Tongseng Bajing Lumpat" rasa pedas itu dipesan mas. Kami pilih makanan lain yaitu kambing yang disebut "Wedhus Gembel Cemeng", "Wedhus Gongso", "Bakmi Jowo" plus cemilannya yang khas jawa, telo/singkong yang dinamain "Tela Legi Kanil", "Carang Gesing", "Pisang Goreng Gula Aren, dll.
Singkat rasa bajingnya ternyata lezat, walau mas kepedesan. Menu lainnya khususnya kambing juga mak nyuuuus. Cemilannya, huuu...mantep tenan. Kesimpulannya hilanglah rasa duka kami terhadap almarhum bajing yang ditongseng tsb.
Ini rekomendasi kami:
RASA MAKANAN : Very Good (ati2 untuk yang nggak suka pedas, tanya dulu mana yang pedas)
RASA MINUMAN : Good
KEBERSIHAN : Good
SUASANA : Good (aman tentram, liat sawah, liat banyak joglo2 ah nyaman tenan)
PELAYANAN : Good
HARGA : Very Good (nggak mahal bo)
REKOMENDASI AKHIR: Very Good -> Direkomendasikan banget!
Untuk bale inap, kayaknya juga ok, walau kami belum ngicipin. Sebagian tamu asing (bule dan India). Buat kami bale inap Tembi wajib dan kudu dicoba, karena tidurnya di joglo, deket sawah, Kasongan dan Pasar Seni Gabusan, Ke Parangtritis juga udah deket lah. Bisa angon bebek, main di sawah, belajr nari, belajar gamelan, naik sepeda onthel muterin desa sekitar (ini cerita Jasmine ponakan yang nginep disana). Wah surga buat kami, moga2 sempet nyobain.
Sebenernya dalem hati, berharap juga Ava bisa perform di Tembi. Ah, kapan ngelukis lagi, sweety?
Kalau mau liat2 Tembi Rumah Budaya, mau tau alamatnya, lokasinya dll, klik aja di http://www.tembi.net/
Gombal gambul
Amburadul
Kepalamu gundul
Shit!
F you!
Kick ur butt!
I hate you!
Asap mengepul
Akal menumpul
Setan merangkul
Amarah mengumpul
Asu!
Jancuk!
Monyet lu!
Gampaaaaar!
Sampai titik darah penghabisan kutahbiskan amarahku padamu rokok dan sang pengisap!
(16 Desember 2009, 19.42, Park Lane Hotel)
Sleeping at the office.
Working late again.
Until subuh.
Again?
Do you love ur job so much?
Nope!
But you sleep at the office!
Yup!
So, do you like ur job?
Nope!
But you sleep at the office!
Yes!
It doesn't mean you like ur job?
Argggghhhhh!!! Shut up! I love my job! So what?! But I don't like to sleep at the office! I miss my bed! I like to work until morning! But I don't like they played Rhoma Irama at nights! Sucks!
(Pancoran, 16 Desember 2009, 05.05)
Cerita demi cerita mendengung di telingaku
Tawa demi tawa menderai di hadapanku
Tangis demi tangis terisak di tatapanku
Excited
Haru
Boring
Ndomblong
Hari ke hari
Minggu ke minggu
Bulan ke bulan
Tahun ke tahun
Wajah demi wajah berlalu
Tatapan demi tatapan menusukku
Decak demi decak mengagumkanku
Desah demi desah memilukanku
Interested
Gile bener
Exhausted
Cape deh
They are my living dictionary
They will come everytime
They are my living dictionary
They will teach me everytime
(16 Desember 2009, 18.15, Park Lane Hotel)
Boring. Jreng, jreng...begitu kata itu muncul di kepalaku, otakku langsung terbang ke hal lain. Apa ya yang bisa diotak-atik? Dinding ruang kerja yang cuma 3x3 itu kupelototin. Uh, udah penuh dengan lukisan, pin, pernak-pernik. Apa lagi ya yang bisa kubuat aneh gitu? Suara air mancur di kamar kerja (yang sengaja dikerasin supaya serasa ada di pinggir sungai) bikin ideku terus bergerak.
Aha! Ternyata aku nggak punya jam dinding! Dasarnya aku nggak suka jam dinding, karena aku suka jam mungil pake per yang kudapet di Ace Hardware. Udah lama sebenarnya pengen bikin jam dinding dari kayu, cuma belum nemu aja tuh kayu. Kadang kalo lagi bengong di dalam mobil yang lagi jalan dan di pinggir jalan ada bapak2 yang lagi nebang pohon, mataku suka jelalatan ngeliatin kayu2 yang berserakan. Hmmm ada nggak ya yang buletnya bagus untuk jam? Tapi kok belum nemu juga.
Kadang kalo lagi belanja ke carefour or pasar or apa aja namanya, kaki pasti melangkah ke bagian alat dapur. Ssst bukan karena doyan masak (boro2 bisa masak, bisanya masak air, masak indomie aja nggak becus). Aku hunting talenan. Tau talenan kan? Itu alas untuk motong2 bahan masakan. Kan ada yang dari kayu, nah udah lama banget nyari talenan bulet, tapi nggak dapet2. Adanya yang kotak melulu.
Angka jamnya mau kubikin dari sesuatu yang belum ada di pasaean ah. Tadinya mau pake biji2an, tapi kayaknya udah ada orang bikin begitu. Aku dan mas punya banyak pernak pernik antik. Ho...ho..bisa dipake tuh.
Akhirnya aku dapet talenan bulet itu. Ternyata mahal bo! Mau beli 2 nggak jadi. Abis itu bongkar2 laci cari paku2 untuk furniture antik yang udah lama kusimpen tapi nggak dipake2. Ketemu! Yuhu, tinggal panggil my lovely OB, "Insinyur" Witno!
Wit!!! Tuolong dong!! Gini ya, aku mau buat bla bla bla....dan seperti biasa Wit bilang iya dan angguk2 kepala sebelum aku selesain nerangin. Heran deh tuh anak, nggak ilang2 kebiasaan jeleknya. Pokoknya ya Wit, kalau salah jitak lu! Ini talenannya mahal..bla bla bla...pakunya nyarinya susah bla..bla..bla... Ngebornya jangan salah...bla..bla...Harus gini, harus gitu, jangan gini, jangan gi..bla..bla..bla..Keluar semua deh gaya emak2 bossy ala Wulan.
Eh, surprise, tenyata "Insinyur" Witno berhasil nyelesaiin jamnya. Hebat euy! Sekarang jam ini tergantung manis di dinding ruang kerjaku dan nggak ada tamu yang tau kalo itu talenan...ho..ho...mereka cuma bingung ngeliatnya, itu jam atau apaan ya?
Btw ternyata jamnya yang ngebor bukan Witno tapi Adi, Witno cuma maku doang...
Ego mimpikan jalan tak mendua
Kutersentak mengingat mimpiku
Mimpi akan cumbumu yang hilang
Mimpi akan birahimu yang lenyap
Mimpi?
Yah, memang semua itu mimpi bagiku
Kumerintih mengingat mimpimu
Mimpi akan belaianku yang fana
Mimpi akan birahiku yang pergi
Mimpi?
Yah, memang semua itu mimpi bagimu
Jalan bercabang
Ku berbelok tak menentu
Kau berbelok merimba
Tajam berbatu mendarah-darah
Tusukan duri yang memerih
Jurang terrtawa menganga di depan dua jalan itu
Mengapa kita terbius?
Mengapa kita terlena?
Mimpikah itu?
Mampukah kita membelokkan jalan itu kembali?
Peluh terbayang mengucur
Emosi terbayang terkuras
Waktu terbayang tak ada habisnya
Ah, tapi kuingin jalan itu kembali menyatu
Mimpikah aku, sayang?
(8 Juli 2007)
Kataku, jangan!
Tapi magnet itu begitu kuat
Aku pun terpana
Menatap ke belakang
Gelap
Perih
Pilu
Marah
Masa yang kelam
Makanya, jangan!
Aku merintih
Menatap ke belakang
Begitu banyak waktu terbuang
Begitu banyak cinta hilang
Begitu banyak birahi membara
Begitu banyak setan bergentayangan
Jangan!
Itu teriakku
Tapi semua membisu
Tak ada yang mendengarku
Aku berlari
Terjatuh
Jurang begitu dalam
Gelaaaaapppp
Mengapa?
Perih
Perih
Perih
Limbung
Tak tentu arah
Kemana aku akan pergi?
Bisakah?
(8 Juli 2007)
“Oek, oek..!” tangis bayi itu pun meluruhkan semua tenaga yang sudah dipompanya dalam waktu 30 menit terakhir. Alhamdulilah.
Ups. Sang ibu terkesima di antara pandangannya yang masih abu-abu karena kehabisan tenaga. Lah, kok pantatnya besar sekali. Masya Allah, bayi itu tidak pantas disebut jabang bayi yang mungil, kata suster beratnya 4 kg! Pantat semok sang bayi yang sedang dipegang oleh suster menari-nari di depan mata sang Ibu.
“Aku salah lihat apa ya?” sang ibu berkata dalam hati sambil mengistirahatkan badannya yang lemah kehabisan tenaga. Dikedipkannya matanya berulang kali, sesaat tampak 2 orang suster itu sedang bercanda dengan bayinya. “Emang bayi baru lahir sudah bisa bercanda?” tanyanya dalam hati.
“Bu, ini bayinya. Gendut dan cakep lo,” kata suster sambil menyerahkan bayi itu padanya. “Ah, betul. Bayiku cakep sekali,“ gumam sang Ibu bangga. Ups lagi. Sang ibu mengusap-usap matanya. “Apa aku nggak salah lihat?” Si jabang bayi gendut itu tersenyum dan mengedipkan matanya matanya. “Bukannya bayi baru lahir belum melek matanya?” tanya sang Ibu dalam hati. Ah, tapi senyumnya nakal sekali. Mengingatkan dirinya akan senyum nakal seorang gadis kecil yang tomboy dua puluh lima tahun yang lalu. Gadis tomboy yang sering membuat Bundanya kebingungan karena banyak Ibu-ibu lain yang mengeluhkan kenakalan anak gadisnya. Sampai-sampai Puskesmas dekat rumah mereka, punya daftar korban sang gadis tomboy tadi.
“Waduh, kayaknya aku bakal kualat nih,” begitu gumam sang Ibu sambil terkagum-kagum memandangi bayinya. Terbayang di kepalanya, bayi ini akan bertingkah sama seperti dirinya waktu kecil dulu. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
I will kick your butt!
Buah mangga itu melayang jatuh. Buk!
“Aduh! Sialan! Siapa yang ngelempar aku?!” Sepasang mata bulat dari sebuah wajah bundar yang didominasi oleh pipi yang gendut dan ranum, melotot mencari asal datangnya buah mangga tersebut. “Siapa yang lempar mangga ini?! I will kick your butt!” kalimat itu meluncur mulus dari bibir kecil itu. Kepalanya mungil mendongak ke atas. Ternyata tidak ada orang di situ. Kaki kecil itu pun berlari menuju ke balik pohon. Ah, tidak ada orang juga dibalik pohon itu. Mulutnya mulai manyun. Kesal tidak menemukan penyerangnya, bocah laki-laki gendut ini pun mengendap-endap menuju semak-semak dekat pohon itu.
“Aha! I found you. I will kick your butt!” Tapi dia tidak menemukan siapa pun. Hanya angin yang berdesir ada di situ. Rasa kesalnya makin memuncak. Dia pun terduduk di rumput, sambil kedua tangannya menyangga pipi-pipinya yang gemuk sambil menggerutu, “Huh, sebel! Padahal kan aku sudah pengen I will kick your butt”.
Lima tahun berselang bayi gemuk itu menjelma menjadi bocah gemuk yang super aktif. Tidak jauh dari kekhawatiran Ibunya. Kenakalannya disertai kejenakaan dan kecerdasan yang luar biasa. Di usia ini Ando, begitu namanya, sudah lancar berbahasa Inggris yang dipelajarinya secara otodidak dari film kartun kegemarannya. Kalimat pertama yang lancar diucapkannya adalah: I will kick your butt. Jelas Ando tidak paham apa artinya, karena itu dia dengan hebohnya mengucapkan kalimat ini, dimana pun, pada siapa pun.
“Halo, ini Yogya bukan? Rumahnya Eyang bukan? Assalamualaikum! Aku mau ngomong sama Eyang Kakung.”
“Wassalamualaikum. Halo juga Ando, ini Eyang. Apa kabar anak ganteng. Eyang kangen nih.”
“Kabarku baik Eyang. Aku juga kangen sama uang jajannya eyang. Kapan dong Eyang main ke Jakarta lagi?”
“Eyang juga sudah nggak sabar pengen ketemu Ando lo. Mungkin minggu depan Eyang berangkat ke Jakarta’”
“Betul? Minggu depan ya. Kalau gitu aku siapin dulu daftar mainan yang aku mau beli sama Eyang ya. Tapi Eyang betulan mau datang kan? Awas lo, kalo enggak, nanti I will kick your butt”.
“Apa Ndo….?” Tanya Eyang kebingungan.
Hati-hati jadi drummer, Ndo!
Sikap Ando yang cenderung hiperaktif, membuat ibunya berpikir keras bagaimana caranya menyalurkan energi Ando tersebut. Sang Ayah bilang, “Sudah lah suruh ikut klub bola lagi saja.” Dengan muka masam sang ibu menjawab, “Cape ah, bosan disindir ibu-ibu yang lain. Gara-gara Ando, anak-anak mereka sekarang sering ngomong I will kick your butt. Malu ah. Belum lagi malu sama pelatihnya. Habis Ando maksa jadi kiper, tapi maunya duduk bersila di dalam gawang, gimana nggak kebobolan terus!”
Beberapa lama kemudian sepasang suami istri itu bersepakat untuk mengirimkan Ando ke belajar drum. Mereka berharap energi Ando bisa lebih tersalur. Satu tahun sudah berselang Ando belajar menggebuk drum. Ternyata Ando dengan cepat belajar jadi drummer. Kak Umar, pelatih drum Ando cukup mampu menaklukkan Ando. Kak Umar sering meminjam kata-kata Ando bila Ando sedang malas belajar drum. “Ndo, I will kick your butt lo.”
Besok adalah hari pertama Ando akan tampil dalam konser, untuk menabuh drum dengan lagu xxxx dari Linkin Park, band favoritnya. Ando sudah siap tampil. Ando sangat bangga dengan rencana konsernya. Begitu juga dengan Ayah dan Ibu, mereka berbunga-bunga menanti penampilan Ando.
Waktu manggung pun datang. Peserta demi peserta menunjukkan kebolehannya di panggung. Sekarang giliran Ando tampil. “Suit, suit!” siulan Ayah Ando memberi semangat putra tercintanya. “Ando! Ando! Ando!” begitu teriak Ibu Ando, kak Umar dan teman-teman Ando. Plok, plok, plok hadirin pun bertepuk tangan menyambut penampilan Ando.
Ando melangkah dengan percaya diri menuju panggung, menyungging senyum nakalnya yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Ando pun melakukan tes memukul drumnya beberapa kali.
Sesaat kemudian lagu Linkin Park "Numb" pun mengalun. I've become so numb……
Ritme lagu pun meninggi, adrenalin Ando pun terpacu untuk makin menunjukkan kebolehannya. Tabuhan drumnya makin keras, memekakkan telinga penonton. Tepuk tangan penonton pun bergerumuh menyambut atraksi Ando. Kombinasi gerakan tangan, kaki dan pendengaran pun makin sulit. Gerakan silang antara tangan kanan dan kirinya makin rumit dalam ritme yang makin cepat.
Tiba-tiba. “Aduh!”
Ando pun melempar stik drumnya, sembari keduanya menutup mata kanannya. “Aduh mataku! Oh shit! Mataku!” Sejenak penonton terdiam kebingungan melihat apa yang terjadi.
Kak Umar sebagai orang yang posisinya terdekat segera berlari ke arah Ando, “Ada apa Ndo?! Kamu nggak apa-apa?!” Belum sempat Ando menjawab, penonton sudah mulai tersenyum. “Ha..ha..ha…..Ando, Ando…ada-ada saja tuh anak…”
“Mataku keculek stik drumku , kak!” jawabnya sambil mulutnya menyungging senyum nakalnya plus rasa sakit tentunya.
Spy kid
Salah satu hobi Ando adalah menonton film kartun, atau apa pun yang berbau misteri atau detektif. Salah satu film favorit Ando adalah “Spy Kid”. Setelah berpuluh-puluh kali memutar film tersebut, Ando mendeklarasikan cita-citanya, “I want to be a spy!” Selain Lego, mainan wajib bagi Ando adalah segala macam peralatan yang digunakan detektif atau mata-mata, termasuk baju ala detektif Sherlock Holmes.
Suatu hari, Ando tampak sibuk menuliskan sesuatu di buku catatan detektifnya. “It’s secret, Ibu,” katanya. Sang ibu keheranan karena biasanya sang Ibu diwajibkan menjadi asisten detektif Ando. Yang makin mengherankan Ando adalah makin akrab dengan sang Ayah. Kemana pun sang Ayah pergi, Ando ngotot berusaha ikut. Tidak seperti biasanya. Ke bengkel, isi bensin, cari cat, ke mana pun Ando akan mengekor.
Tingkat kecerewetan Ando pun meningkat. Bila Ayah belum tiba di rumah, maka Ando akan ribut bukan kepalang menelpon Ayah. Bila teleponnya ke handphone tidak menyambung, maka dengan sigap Ando akan telpon ke handphone Bu Mawar, sekretaris sang Ayah, seorang ibu berusia hampir 55 tahun.
“Halo, bude Mawar ya? Ayah kok belum pulang? Kemana sih?” tanya Ando. “Ayah harusnya sudah pulang. Bude Mawar harusnya tahu kan ayah kemana. Awas lo kalau enggak, I will kick your butt” . “Ando!” teriak sang ibu sambil merebut telepon dari genggaman Ando.
Semua itu terjawab pada suatu Minggu sore, saat Ando tiba-tiba memberikan selembar kertas pada Ayahnya dan selembar lagi untuk Ibunya. Isinya undangan untuk datang ke kantor detektif Ando. Sambil tersenyum mereka pun berlenggang menuju ruangan detektif itu. Ando sudah siap menyambut dengan jubah ala Sherlock Holmes-nya. Ando mempersilahkan ayah dan ibunya duduk dan berkata, “Good afternoon, Mr and Mrs Arman. Anda semua sudah kenal saya kan? Detektif Ando yang terkenal. Saya akan membeberkan penemuan saya tentang seorang penjahat bernama….Ayah!”
“Ha?! Aku…..?” tanya Ayah Ando kebingungan. Ibu Ando pun melongo.
“Ya, Ayah adalah penjahat terbaru yang kejahatannya berhasil kuungkap. Ayah begitu pintar menyembunyikan kejahatan. Tapi Ayah lupa, aku adalah Ando sang detektif tersohor! Ha..ha..ha..”
Sang Ayah dan Ibu masih terheran-heran sambil tersenyum melihat perut gendut Ando yang bergerak-gerak di balik jubahnya akibat tawanya yang keras.
“Ayah selingkuh…!!!!” tegas Ando. “Haaaaa……!!!???” sang Ibu pun terlompat dari kursinya. Sang Ayah merah padam mendengarnya. “Tujuh puluh lima persen dari bulan ini Ayah pulang malam! Nomor telpon yang dihubungi Ayah, 40% adalah nomor telpon perempuan! Ayah kalau pergi sama Ando ke bengkel, sering bilang kalau mbak yang di kasir cantik. Ayah waktu pergi ke toko cat, bilang ke Ando kalau mbaknya manis kayak pemain sinetron. Kesimpulannya Ayah pasti punya wanita yang disimpan-simpan!”
Ayah Ando merah padam mendengarnya. Sementara sang Ibu tersenyum kecut namun bahagia, “Akhirnya berguna juga kenakalan Ando untukku…….”
Rama dan Shinta
Hari ini Eyang Putri dan Eyang Kakung datang ke Jakarta, menginap di rumah. Ando sudah sibuk menanti kedatangan donatur tetapnya yang sangat dermawan padanya itu. Tapi tidak seperti biasanya, Eyang tidak membawa oleh-oleh untuk Ando. Jelas, itu membuat Ando cemberut. Paling tidak biasanya ada mainan detektif baru untuknya. Tapi kali ini?
Eyang berdua hanya membawa segulung kertas besar yang dengan hati-hati dibawa dari Yogya. Begitu datang Eyang langsung sibuk menjelaskan pada Ayah dan Ibu tentang isi kertas tersebut. Isinya adalah silsilah keluarga besar Eyang secara turun temurun. Dengan berapi-api Eyang menjelaskan bahwa ternyata cikal bakal leluhur mereka adalah Raden Brawijaya dari Kerajaan Majapahit.
“Huh, apa hebatnya kerajaan Majapahit,” desis Ando. Ia memang tidak paham apa yang mereka bicarakan. Maklum, Ando saat itu baru berusia 6 tahun jadi pengetahuannya tentang sejarah belum lah memadai. Yang ia tahu hanyalah candi Prambanan dan operet Ramayana yang sangat disukainya, yang mereka tonton liburan tahun lalu.
Ayah dan Ibu Ando makin asyik mendengarkan penuturan Eyang tentang bagaimana silsilah dari Raden Brawijaya sampai ke mereka saat ini. Berbagai nama Raja, Pangeran dan Sunan disebutkan Eyang. Ando makin tidak paham, dan makin merasa diabaikan. Ando hilir mudik di sekeliling mereka, tanpa dihiraukan. Sementara biasanya Ando menjadi pusat perhatian mereka. Kekesalan Ando pun makin memuncak dan tidak tertahankan. Akhirnya……..
“Eyang, Eyang…! Kalau begitu Rama dan Shinta itu leluhur kita ya?” tanya Ando dengan sok tau dan lantang. Hening. Kemudian pecahlah tawa yang tergelak-gelak.
Ando pun makin cemberut dan berteriak pada leluhurnya, “Eyang nakal! Rama dan Shinta, I will kick your butt!”




