Wulan Dewi
Peluh memenuhi sekujur tubuh wanita itu, seorang Ibu yang sedang berjuang melahirkan bayinya. Rasa sakit yang amat sangat menyiksa sekujur tubuhnya. Beban berat yang dibawanya sejak 9 bulan terakhir benar-benar merupakan siksaan baginya. Sekarang tiba saatnya mengeluarkan sang jabang bayi yang indekos gratis diperutnya!

“Oek, oek..!” tangis bayi itu pun meluruhkan semua tenaga yang sudah dipompanya dalam waktu 30 menit terakhir. Alhamdulilah.

Ups. Sang ibu terkesima di antara pandangannya yang masih abu-abu karena kehabisan tenaga. Lah, kok pantatnya besar sekali. Masya Allah, bayi itu tidak pantas disebut jabang bayi yang mungil, kata suster beratnya 4 kg! Pantat semok sang bayi yang sedang dipegang oleh suster menari-nari di depan mata sang Ibu.

“Aku salah lihat apa ya?” sang ibu berkata dalam hati sambil mengistirahatkan badannya yang lemah kehabisan tenaga. Dikedipkannya matanya berulang kali, sesaat tampak 2 orang suster itu sedang bercanda dengan bayinya. “Emang bayi baru lahir sudah bisa bercanda?” tanyanya dalam hati.

“Bu, ini bayinya. Gendut dan cakep lo,” kata suster sambil menyerahkan bayi itu padanya. “Ah, betul. Bayiku cakep sekali,“ gumam sang Ibu bangga. Ups lagi. Sang ibu mengusap-usap matanya. “Apa aku nggak salah lihat?” Si jabang bayi gendut itu tersenyum dan mengedipkan matanya matanya. “Bukannya bayi baru lahir belum melek matanya?” tanya sang Ibu dalam hati. Ah, tapi senyumnya nakal sekali. Mengingatkan dirinya akan senyum nakal seorang gadis kecil yang tomboy dua puluh lima tahun yang lalu. Gadis tomboy yang sering membuat Bundanya kebingungan karena banyak Ibu-ibu lain yang mengeluhkan kenakalan anak gadisnya. Sampai-sampai Puskesmas dekat rumah mereka, punya daftar korban sang gadis tomboy tadi.

“Waduh, kayaknya aku bakal kualat nih,” begitu gumam sang Ibu sambil terkagum-kagum memandangi bayinya. Terbayang di kepalanya, bayi ini akan bertingkah sama seperti dirinya waktu kecil dulu. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.


I will kick your butt!

Buah mangga itu melayang jatuh. Buk!

“Aduh! Sialan! Siapa yang ngelempar aku?!” Sepasang mata bulat dari sebuah wajah bundar yang didominasi oleh pipi yang gendut dan ranum, melotot mencari asal datangnya buah mangga tersebut. “Siapa yang lempar mangga ini?! I will kick your butt!” kalimat itu meluncur mulus dari bibir kecil itu. Kepalanya mungil mendongak ke atas. Ternyata tidak ada orang di situ. Kaki kecil itu pun berlari menuju ke balik pohon. Ah, tidak ada orang juga dibalik pohon itu. Mulutnya mulai manyun. Kesal tidak menemukan penyerangnya, bocah laki-laki gendut ini pun mengendap-endap menuju semak-semak dekat pohon itu.

“Aha! I found you. I will kick your butt!” Tapi dia tidak menemukan siapa pun. Hanya angin yang berdesir ada di situ. Rasa kesalnya makin memuncak. Dia pun terduduk di rumput, sambil kedua tangannya menyangga pipi-pipinya yang gemuk sambil menggerutu, “Huh, sebel! Padahal kan aku sudah pengen I will kick your butt”.

Lima tahun berselang bayi gemuk itu menjelma menjadi bocah gemuk yang super aktif. Tidak jauh dari kekhawatiran Ibunya. Kenakalannya disertai kejenakaan dan kecerdasan yang luar biasa. Di usia ini Ando, begitu namanya, sudah lancar berbahasa Inggris yang dipelajarinya secara otodidak dari film kartun kegemarannya. Kalimat pertama yang lancar diucapkannya adalah: I will kick your butt. Jelas Ando tidak paham apa artinya, karena itu dia dengan hebohnya mengucapkan kalimat ini, dimana pun, pada siapa pun.

“Halo, ini Yogya bukan? Rumahnya Eyang bukan? Assalamualaikum! Aku mau ngomong sama Eyang Kakung.”

“Wassalamualaikum. Halo juga Ando, ini Eyang. Apa kabar anak ganteng. Eyang kangen nih.”

“Kabarku baik Eyang. Aku juga kangen sama uang jajannya eyang. Kapan dong Eyang main ke Jakarta lagi?”

“Eyang juga sudah nggak sabar pengen ketemu Ando lo. Mungkin minggu depan Eyang berangkat ke Jakarta’”

“Betul? Minggu depan ya. Kalau gitu aku siapin dulu daftar mainan yang aku mau beli sama Eyang ya. Tapi Eyang betulan mau datang kan? Awas lo, kalo enggak, nanti I will kick your butt”.

“Apa Ndo….?” Tanya Eyang kebingungan.


Hati-hati jadi drummer, Ndo!

Sikap Ando yang cenderung hiperaktif, membuat ibunya berpikir keras bagaimana caranya menyalurkan energi Ando tersebut. Sang Ayah bilang, “Sudah lah suruh ikut klub bola lagi saja.” Dengan muka masam sang ibu menjawab, “Cape ah, bosan disindir ibu-ibu yang lain. Gara-gara Ando, anak-anak mereka sekarang sering ngomong I will kick your butt. Malu ah. Belum lagi malu sama pelatihnya. Habis Ando maksa jadi kiper, tapi maunya duduk bersila di dalam gawang, gimana nggak kebobolan terus!”

Beberapa lama kemudian sepasang suami istri itu bersepakat untuk mengirimkan Ando ke belajar drum. Mereka berharap energi Ando bisa lebih tersalur. Satu tahun sudah berselang Ando belajar menggebuk drum. Ternyata Ando dengan cepat belajar jadi drummer. Kak Umar, pelatih drum Ando cukup mampu menaklukkan Ando. Kak Umar sering meminjam kata-kata Ando bila Ando sedang malas belajar drum. “Ndo, I will kick your butt lo.”

Besok adalah hari pertama Ando akan tampil dalam konser, untuk menabuh drum dengan lagu xxxx dari Linkin Park, band favoritnya. Ando sudah siap tampil. Ando sangat bangga dengan rencana konsernya. Begitu juga dengan Ayah dan Ibu, mereka berbunga-bunga menanti penampilan Ando.

Waktu manggung pun datang. Peserta demi peserta menunjukkan kebolehannya di panggung. Sekarang giliran Ando tampil. “Suit, suit!” siulan Ayah Ando memberi semangat putra tercintanya. “Ando! Ando! Ando!” begitu teriak Ibu Ando, kak Umar dan teman-teman Ando. Plok, plok, plok hadirin pun bertepuk tangan menyambut penampilan Ando.
Ando melangkah dengan percaya diri menuju panggung, menyungging senyum nakalnya yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Ando pun melakukan tes memukul drumnya beberapa kali.

Sesaat kemudian lagu Linkin Park "Numb" pun mengalun. I've become so numb……
Ritme lagu pun meninggi, adrenalin Ando pun terpacu untuk makin menunjukkan kebolehannya. Tabuhan drumnya makin keras, memekakkan telinga penonton. Tepuk tangan penonton pun bergerumuh menyambut atraksi Ando. Kombinasi gerakan tangan, kaki dan pendengaran pun makin sulit. Gerakan silang antara tangan kanan dan kirinya makin rumit dalam ritme yang makin cepat.

Tiba-tiba. “Aduh!”

Ando pun melempar stik drumnya, sembari keduanya menutup mata kanannya. “Aduh mataku! Oh shit! Mataku!” Sejenak penonton terdiam kebingungan melihat apa yang terjadi.
Kak Umar sebagai orang yang posisinya terdekat segera berlari ke arah Ando, “Ada apa Ndo?! Kamu nggak apa-apa?!” Belum sempat Ando menjawab, penonton sudah mulai tersenyum. “Ha..ha..ha…..Ando, Ando…ada-ada saja tuh anak…”

“Mataku keculek stik drumku , kak!” jawabnya sambil mulutnya menyungging senyum nakalnya plus rasa sakit tentunya.


Spy kid

Salah satu hobi Ando adalah menonton film kartun, atau apa pun yang berbau misteri atau detektif. Salah satu film favorit Ando adalah “Spy Kid”. Setelah berpuluh-puluh kali memutar film tersebut, Ando mendeklarasikan cita-citanya, “I want to be a spy!” Selain Lego, mainan wajib bagi Ando adalah segala macam peralatan yang digunakan detektif atau mata-mata, termasuk baju ala detektif Sherlock Holmes.

Suatu hari, Ando tampak sibuk menuliskan sesuatu di buku catatan detektifnya. “It’s secret, Ibu,” katanya. Sang ibu keheranan karena biasanya sang Ibu diwajibkan menjadi asisten detektif Ando. Yang makin mengherankan Ando adalah makin akrab dengan sang Ayah. Kemana pun sang Ayah pergi, Ando ngotot berusaha ikut. Tidak seperti biasanya. Ke bengkel, isi bensin, cari cat, ke mana pun Ando akan mengekor.

Tingkat kecerewetan Ando pun meningkat. Bila Ayah belum tiba di rumah, maka Ando akan ribut bukan kepalang menelpon Ayah. Bila teleponnya ke handphone tidak menyambung, maka dengan sigap Ando akan telpon ke handphone Bu Mawar, sekretaris sang Ayah, seorang ibu berusia hampir 55 tahun.

“Halo, bude Mawar ya? Ayah kok belum pulang? Kemana sih?” tanya Ando. “Ayah harusnya sudah pulang. Bude Mawar harusnya tahu kan ayah kemana. Awas lo kalau enggak, I will kick your butt” . “Ando!” teriak sang ibu sambil merebut telepon dari genggaman Ando.

Semua itu terjawab pada suatu Minggu sore, saat Ando tiba-tiba memberikan selembar kertas pada Ayahnya dan selembar lagi untuk Ibunya. Isinya undangan untuk datang ke kantor detektif Ando. Sambil tersenyum mereka pun berlenggang menuju ruangan detektif itu. Ando sudah siap menyambut dengan jubah ala Sherlock Holmes-nya. Ando mempersilahkan ayah dan ibunya duduk dan berkata, “Good afternoon, Mr and Mrs Arman. Anda semua sudah kenal saya kan? Detektif Ando yang terkenal. Saya akan membeberkan penemuan saya tentang seorang penjahat bernama….Ayah!”

“Ha?! Aku…..?” tanya Ayah Ando kebingungan. Ibu Ando pun melongo.
“Ya, Ayah adalah penjahat terbaru yang kejahatannya berhasil kuungkap. Ayah begitu pintar menyembunyikan kejahatan. Tapi Ayah lupa, aku adalah Ando sang detektif tersohor! Ha..ha..ha..”

Sang Ayah dan Ibu masih terheran-heran sambil tersenyum melihat perut gendut Ando yang bergerak-gerak di balik jubahnya akibat tawanya yang keras.

“Ayah selingkuh…!!!!” tegas Ando. “Haaaaa……!!!???” sang Ibu pun terlompat dari kursinya. Sang Ayah merah padam mendengarnya. “Tujuh puluh lima persen dari bulan ini Ayah pulang malam! Nomor telpon yang dihubungi Ayah, 40% adalah nomor telpon perempuan! Ayah kalau pergi sama Ando ke bengkel, sering bilang kalau mbak yang di kasir cantik. Ayah waktu pergi ke toko cat, bilang ke Ando kalau mbaknya manis kayak pemain sinetron. Kesimpulannya Ayah pasti punya wanita yang disimpan-simpan!”

Ayah Ando merah padam mendengarnya. Sementara sang Ibu tersenyum kecut namun bahagia, “Akhirnya berguna juga kenakalan Ando untukku…….”


Rama dan Shinta

Hari ini Eyang Putri dan Eyang Kakung datang ke Jakarta, menginap di rumah. Ando sudah sibuk menanti kedatangan donatur tetapnya yang sangat dermawan padanya itu. Tapi tidak seperti biasanya, Eyang tidak membawa oleh-oleh untuk Ando. Jelas, itu membuat Ando cemberut. Paling tidak biasanya ada mainan detektif baru untuknya. Tapi kali ini?

Eyang berdua hanya membawa segulung kertas besar yang dengan hati-hati dibawa dari Yogya. Begitu datang Eyang langsung sibuk menjelaskan pada Ayah dan Ibu tentang isi kertas tersebut. Isinya adalah silsilah keluarga besar Eyang secara turun temurun. Dengan berapi-api Eyang menjelaskan bahwa ternyata cikal bakal leluhur mereka adalah Raden Brawijaya dari Kerajaan Majapahit.

“Huh, apa hebatnya kerajaan Majapahit,” desis Ando. Ia memang tidak paham apa yang mereka bicarakan. Maklum, Ando saat itu baru berusia 6 tahun jadi pengetahuannya tentang sejarah belum lah memadai. Yang ia tahu hanyalah candi Prambanan dan operet Ramayana yang sangat disukainya, yang mereka tonton liburan tahun lalu.

Ayah dan Ibu Ando makin asyik mendengarkan penuturan Eyang tentang bagaimana silsilah dari Raden Brawijaya sampai ke mereka saat ini. Berbagai nama Raja, Pangeran dan Sunan disebutkan Eyang. Ando makin tidak paham, dan makin merasa diabaikan. Ando hilir mudik di sekeliling mereka, tanpa dihiraukan. Sementara biasanya Ando menjadi pusat perhatian mereka. Kekesalan Ando pun makin memuncak dan tidak tertahankan. Akhirnya……..

“Eyang, Eyang…! Kalau begitu Rama dan Shinta itu leluhur kita ya?” tanya Ando dengan sok tau dan lantang. Hening. Kemudian pecahlah tawa yang tergelak-gelak.

Ando pun makin cemberut dan berteriak pada leluhurnya, “Eyang nakal! Rama dan Shinta, I will kick your butt!
Labels: