Sukmalanu




Nama lengkapku Juniwulan Dewi Permaining Tyas. Bukan Yuniwulan bla bla bla ya guys...:). Kira-kira 28 tahun lalu aku meninggalkan sebuah sekolah yang begitu membekas, SMP Domenico Savio. Di SMP, begajul-begajul itu memanggilku Jawul. Heeeh mau protes tambah diketawain. Nama yang nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Maklum waktu itu badan masih kurus kering seperti jalangkung. Sementara di SMA dan selama kuliah di Fakultas Psikologi UGM, teman-teman memberiku nama Uul. Nah, itu nama baru manis. Sekarang aku lebih suka pake nama Wulan Dewi.

Tapi ternyata nama Jawul pemberian begajul-begajul itu ngangenin juga. So datanglah aku ke Reuni SMP Domenico Savio Angkatan 1983 yang baru saja berlangsung 27 Desember 2011 lalu. Wuiiiih so sweet deh. Sampe-sampe aku merasa harus sempetin buat sedikit tulisan fiktif yang nggak fiktif. Bingung tho? Semoga tulisan ini nggak menyinggung karena ada yang hiperbola dikit.
Peace man. I luv u all guys!



LASKAR GUNUNG BRINTIK


SEBUAH AWAL

Selasa 27 Desember 2011. Pagi yang dinanti pun datang. Bergegas mobil kupacu menjemput Tutu. Sekejap wajah putih cantik itu muncul dan masuk ke dalam mobil. Dan masih seperti 28 tahun yang lalu, dari mulutnya meluncurlah cerita secara bertubi-tubi tanpa henti. Sambil menggenggam erat setir mobil pun aku tersenyum dan berkata dalam hati, "Teteeeep".

Kami pun sampai di hotel, meeting point kami dengan Catrin & Mona. Wajah Mona tidak membuatku surprise berkat bocoran teknologi Blackberry. Ah, suaranya juga masih khas Mona 28 tahun yang lalu. Aku pun kembali tersenyum dan berkata dalam hati: "Tetep juga....".

Tak lama Catrin pun muncul, dengan senyum cantiknya dan gerak halusnya yang tidak hilang sejak 28 tahun lalu. Untuk yang ini aku nggak surprise karena malam sebelumnya kami sudah ketemu di reuni SD. Yang jelas keayuan Catrin yang membuat seseorang di kelas C terkapar, masih tetep menawan. Gumamku dalam hati, “Semoga saja hari ini tuh anak nggak terkapar lagi”.

Kami segera meluncur ke kampus eh salah, meluncur ke bekas sekolah kami SMP Domenico Savio di sebuah tempat yang untuk mudahnya sebut saja Gunung Brintik. Sebuah sekolah yang begitu membekas di hati. Gimana enggak, sekolah ini selalu masuk dalam ranking 5 besar nasional. Wuiiih, GR.com deh. By the way Gunung Brintik itu bukan gunung serius ya, itu hanya sebuah bukit di tengah kota Semarang, dimana sekolah kami menyatu dengan lokasi Katedral yang berada di kaki Gunung Brintik.

Sambil menikmati menyetir di Semarang yang aduhai lancarnya dan mendengarkan kicauan Catrin, Mona dan Tutu, aku sayup-sayup mendengarkan radio yang sedang mempromosikan Laskar Pelangi yang akan tampil di Dunia Fantasi. Lamunanku pun melayang, ah semoga teman-teman yang kutemui di reuni ini nanti seasyik Laskar Pelangi. Tapi di Gunung Brintik nggak ada pelangi, aaaah kalau begitu aku kasih nama ini saja: Laskar Gunung Brintik! Yah, maksa.com dikit lah.

Tak terasa sampailah kami di kaki Gunung Brintik. Saat keluar dari mobil, mata kulayangkan jauh mengintip deretan bapak-bapak berkaos merah di depan aula. Alamak, sudah bapak-bapak mereka! Heh, kadang aku lupa bahwa usia kami memang sudah mulai senja...ha..ha..ha... Dan aku juga lupa kalau sekolah ini bekas sekolah khusus laki-laki yang kemudian menerima sedikit murid perempuan. Bisa dimaklumi kalau jumlah laki-laki sangat dominan di sini, dan bisa dimaklumi juga kenapa sosokku berkembang menjadi rada-rada gagah ketimbang feminin. Gimana enggak coba, aku, cewek harus jadi ketua kelas anak-anak laki begundal begitu? Masya Allah kalau diinget lagi, itu masa-masa paling stres dalam hidupku. Untung sekarang masih bisa hidup sehat wal’afiat.

Mataku mencari-cari sosok yang kukenal diantara mereka. Lah, nggak ada yg kenal! Mati aku! Untung aku datang berempat, jadi nggak terlalu keliatan bego. Sumpah, telepatiku juga bilang bahwa sebenarnya Catrin, Mona & Tutu juga rada-rada tulalit dengan wajah-wajah yang menyambut kami. Tapi dengan gaya sok kenal satu persatu kami salami mereka.

Aha! Ada wajah yang kukenal! Thanks God. Ada wajah bulat Yohanes. Hmmm...tapi ekspresi bengalnya sudah nggak ada. Ups, ternyata masih ada bekasnya.......lirikan mata Yohanes mengekor pada sesosok seksi dan mulus dengan rok mini di sekitarku. Ha ha ha.....tetep juga, tawaku dalam hati. Jangan-jangan dia juga masih tetep penggemar Nick Carter. Hush, aku tepis pikiran jahil itu.


ANTARA GANTENG, TINTIN & HORMON WANITA

Karena pikiran jahil itu aku agak nggak konsentrasi dengan jabatan tanganku. Tiba-tiba saja ada suara bertanya, "Masih inget aku?". Refleks kata "Haaa?" hampir meluncur dari bibirku. Tapi kata itu tertahan karena aku bengong melihat sosok ganteng di depanku. Di hadapanku berdiri seorang laki-laki ganteng yang sumpah demi apa, aku nggak ngerasa kenal. Rasanya di kelas dulu nggak ada yang ganteng deh. Tapi ekspresi kalem itu mengingatkanku pada satu sosok. Ya Allah, itu Koko! Wah kalau yang ini sih berubah total. Teori "tetep" ku pun tidak terbukti kali ini.

Pikirku mungkin anak-anak cowok memang berubah. Tapi ada sebuah wajah dengan jambul rambut khas (bukan jambul noraknya Syahrani ya) yang mematahkan hipotesaku tadi. Aku pun tersenyum melihat wajah serupa Tintin, tokoh kartun favoritku itu. Uthe, nggak banyak berubah kecuali kerutan di wajahnya dan badannya yang juga tidak lagi imut-imut seperti halnya Koko, plus ekspresinya yang kelihatan dewasa sekali.

Yang lain mana ya? Hati ini makin meloncat-loncat saking curious-nya ingin ketemu yang lain. Setelah cipika-cipiki dengan beberapa rekan kelas lain yang jujur I don't care about who they are, mata ini masih mencari-cari sosok-sosok mahluk 3C. Mana Laskar Gunung Brintik yang lain? Tiba-tiba ada teriakan kecil memekakkan kupingku, "Wulaaaan!". Gantian hormon wanitaku yang bereaksi menstimulusku untuk membalas teriakan itu dengan teriakan ala cewek, "Noviiii!!!". Di mataku Novi juga tetep, nggak banyak berubah, walaupun waktu telah merubahnya agak melebar, tapi Novi masih menyungging senyum manisnya 28 tahun yang lalu.


TAS KRESEK & NARSIS

Nostalgiaku dengan Novi terganggu dengan sebuah kantung plastik kresek yang disodorkan Tutu. Eks Putri Citra yang cantik ini memamerkan jajanan pasar dalam kresek itu, yang katanya oleh-oleh Eddi. OMG! Eddi! I miss you so much! Aku pun bergegas membalikkan badan ke arah yang ditunjuk Tutu. Itu dia! Aku dan sesosok manusia bulat dengan wajah ceria plus kacamata itu meneriakkan nama masing-masing dan berlari ala slow motion mendekat. Untung aku masih jaim, kalo enggak mungkin pipi Eddi bakal jadi korban cipika cipiki ku. Heh, yang ini juga tetep, masih Eddi yang dulu: ndut, ceria dan menggemaskan. Oh ada tambahan lagi! Nggak tau kenapa kalau duduk deket Eddi bawaannya selalu lapar. Mungkin itu gift dari Tuhan yang bikin Eddi sekarang sukses dengan bisnis kulinernya: “Warung Eddi”.

Saat sibuk dengan Eddi ada seorang laki-laki yang sok kenal menjabat tanganku dan nimbrung ngobrol. "Iki sopo maneh?", tanyaku dalam hati. Kulirik name tag di dadanya. Walah ini Sadoe! Di benakku Sadoe adalah anak cowok hitam, mungil dengan hidung yang kembang kempis. Refleks kupukul pundak Sadoe sambil berteriak, "Kamu kok sekarang gede banget sih?!". Kupikir-pikir lagi itu pertanyaan terkonyol yang pernah kuucapkan. Ya iyalah 28 tahun sudah lewat kalau sampai nggak tumbuh ya pasti ada yang salah. Untung Sadoe sama konyolnya, dan dia pun terbahak mendengarnya. Buatku Sadoe berubah total, nggak ada lagi hidungnya yang suka kembang kempis itu!

Sejak saat itu Sadoe menjadi korbanku. Tau kenapa? Salah sendiri Sadoe bawa kamera besar dan bergaya fotografer. Nah, aku nggak pernah bisa diem liat fotografer bekerja. Kasihan mereka, sudah cape keberatan bawa kamera, nggak ada yang asyik untuk difoto. Jadi, yaaaa aku bermurah hati atau boleh juga dibilang maksa untuk selalu nampang di depan kamera mereka....ha..ha...ha. Maklum semua nama belakang aku dan teman-teman angkatanku semasa kuliah di Psikologi UGM adalah "narsis". Jadi nggak heran kan kalau aku tidak rela liat fotografer nganggur?


MASYA ALLAH & SMILING FACE

Sedang asyiknya foto sana foto sini, ada bapak-bapak berkumis yang tersenyum dan mengajakku salaman. Heran kenapa hari ini banyak bapak-bapak ya? Nah yang ini berwibawa banget, serasa salaman sama pejabat euy. Photoshop di kepala ku pun bekerja. Andai kumis itu di-delete, jadi siapa ya? Hmmm...sosok kalem bekal sikap wibawanya aku kenal. Yaaaa! Rusdi! Alamak....aku menemukan lagi 1 teman cowok yang tidak lagi imut-imut. Sepanjang reuni berjalan, kepala Rusdi terus bergeleng-geleng bukan karena dicekokin drugs tapi karena heran dengan tingkah laku teman-teman. Entah sudah berapa kalimat "Masya Allah" diucapkan Rusdi.

Teman-teman kelas C makin kelihatan banyak berdatangan. Kami pun sibuk berfoto seakan ini adalah reuni kelas C saja. Kami, Laskar Gunung Brintik pura-pura budeg dengan tidak menghiraukan panggilan panitia untuk memulai reuni. Berfoto ria, teriakan, rangkulan terus berlanjut.

Termasuk teriakan kerasku saat melihat seraut wajah dengan senyum khas. Smiling face yang sangat kukangeni. Bektiiiiiiii! Gosh, finally I met this girl! Eits ternyata yang kangen dan heboh ketemu Bekti bukan hanya aku. Busyet, teman-teman cowok juga! Wah aku lupa bahwa Bekti adalah cewek yang sangat easy going yang membuat teman-teman cowok juga sama sekali nggak rikuh dekat dengan Bekti. What a girl! Senyum lebar dan sikap cerianya tak hilang sama sekali.


BJ & THE STATISTIC ANALYSIS

Di antara kehebohan Bekti, menyeruak seorang wanita berjilbab yang mengacung-acungkan tangan. Maksudnya? Kenapa pula nih orang? Dahiku sempat berkerut mendengar kata-katanya, "BJ, BJ, BJ!". Tiiiing! Processor di otakku refleks bekerja dan menemukan memori kata BJ itu di belahan otak entah yang sebelah mana. Itu Tri Wahyuni! Kami biasa memanggilnya BJ sebagai nama panggilannya yang sebetulnya wujud sikap nakal kami di jaman SMP. Waktu itu setiap orang kami panggil dengan nama orangtuanya. Nama ayah Tri adalah Supirman yang diplesetkan ke judul film "BJ & The Bear" yang saat itu ngetop. Jadilah Tri dipanggil BJ. Dan tanpa dinyana justru nama BJ itu yang menjadi reminder kami di reuni ini. Heh siapa bilang sikap nakal nggak ada manfaatnya...:)

Tanpa kata BJ, secara fisik Tri termasuk cukup merepotkan otakku yang sudah mulai lemot untuk mengingatnya. Tapi ada lagi yang betul-betul bakal membuatku mengasah otak untuk mengingatnya berhubung secara fisik teman yang satu ini berubah total. Kalau diolah secara statistik dengan metode T-test hasilnya pasti sangat signifikan dengan p<0,05. Siapa dia? Ester namanya. Dahulu kala Ester adalah mahluk wanita ciptaan Tuhan termungil di kelas 3C. Selang 28 tahun kemudian Ester berubah menjadi tiruannya ibu Megawati eks presiden kita. Tapi cara bicaranya, smart-nya tidak hilang sama sekali. Dengan duduk di sebelah Ester, menatapnya lekuk wajahnya dan mendengar cara bicaranya aku pun tidak lagi tertipu dengan fisiknya secara keseluruhan. Lagian teknologi Blackberry lagi-lagi sudah kasih bocoran foto Ester, jadi ndomblong-ku nggak keterlaluan lah.


OBAT KURUS & PRESIDEN CHINA

Beberapa teman berkembang seperti kue bolu kukus yang mekrok nan menggiurkan. Mungkin beberapa teman mendambakan obat kurus untuk bisa kembali ke ukuran seperti dulu. Including me, yang sempat membengkak 3-4 tahun lalu. Tapi sebaliknya ada teman yang justru lebih kurus dibandingkan 28 tahun lalu. Andono namanya. Ini teman bikin bingung aku menetapkan label "tetep" atau "berubah". Paras mukanya sama sekali nggak berubah, hanya pipi dan badannya yang jauh mengurus. Tapi sikap kalemnya sekarang termodifikasi dengan sikapnya yang lebih usil. Hmmm....melihat Andono yang bisa kurus, tiba-tiba memoriku melayang pada tubuh tambun yang sedang berjemur di Bali. He he he.......harusnya Andono bagi-bagi resep dengan Handoko supaya bisa kurusan ya? Kuping Handoko mungkin panas diomongin begini. Biarin lah, daripada dia melototin bule topless melulu di Bali.

Lagi ngebayangin Bali tiba-tiba di depanku lewat seraut wajah oriental yang tidak asing. Aduh, tapi aku lupa namanya! Mata kupejamkan sementara tanganku menggaruk-garuk kepala, bukan karena kutuan tapi berusaha mengingat nama teman itu. Aaah! Chiang Kai Shek! Yes! aku pun bergegas berdiri mau menyalaminya. Tapi aku keduluan salah satu teman cowok yang menyalami sambil meneriakkan namanya, "Cia Keng Seng piye kabare?". Aku pun berhenti mendadak, "OMG! Untung aku belum sempet sebut namanya! Gosh, salah ya?". Sambil jaim aku pun tetap menyalami Cia Keng Seng. Setelah itu sambil duduk aku pun berpikir memutar otak yang makin sering tulalit ini, "Chiang Kai Shek itu siapa ya? Kok namanya serasa nempel di otakku?". Tau siapa dia? Heh ternyata nama salah satu presiden China yang legendaris, temannya dr Sun Yat Sen. Pantes aja inget.....


REUNION IDOL

Di reuni ini panitia mengundang 2 penyanyi yang nggak pernah cape nyanyi dari awal sampai akhir. Sebenarnya yang cape aku karena lihat gaya mereka yang serasa artis dari planet Mars dengan topi teraneh bin ajaib yang pernah kuliat dan rok terburuk menurut Fashion Police versiku.

Untungnya di antara mereka ada 2 anggota Laskar Gunung Brintik yang ciamik banget menandingi mereka. Serasa Broery Pesolima, Trisuryo pun berulang kali beraksi menyanyi dengan mendayu-dayu. Bisa jadi kalau Broery Pesolima masih hidup dia pengen ganti nama jadi Broery Pesotiga supaya namanya mirip dengan Trisuryo. Wuiiih, aku ndomblong melihat Trisuryo beraksi. Rasanya dulu Trisuryo nggak ketauan bisa nyanyi deh. Wah dia termasuk yang berubah! Gayanya itu lho, romantis banget jadi penyanyi. Trisuryo pun seakan lupa bahwa dia menggondol anaknya selama reuni. Tinggallah sang anak duduk di pinggir panggung sambil ndomblong melihat ayahnya sambil ngomel dalam hati, “Si Ayah ngapain sih itu? Cape nih! Bete nih! Laper nih!”.

Dan situasi panggung pun menjadi terasa seperti Indonesian Idol atau tepatnya Reunion Idol karena ternyata Laskar Gunung Brintik punya penyanyi 1 lagi! Sama hebohnya dengan Trisuryo, jagoan Dagger kelas 3C ini pun menjadi penyanyi dengan gaya yang berbeda jauh dengan Trisuryo. Yang ini gayanya ndil-ndilan. Aku pun tersenyum melihat body languange-nya yang sama sekali nggak berubah. Caranya menggerakkan badan sama persis dengan 28 tahun lalu. Selesai heboh berduet dan bergojet dengan mbak-mbak penyanyi yang aneh bin ajaib itu, Jarot pun kembali duduk di sebelahku. Kami pun mengobrol tentang keluarga. Aku menunjukkan foto anak-anak dan suamiku yang terganteng se-Asia Tenggara menurut versi majalah karanganku. Demikian pula Jarot yang menunjukkan foto keluarganya. Dan tiba-tiba Jarot pun membisikkan sesuatu di kupingku. Aku pun refleks memalingkan wajahku menatap tajam matanya, “Masih aja Rot? Please deh”. Hanya Tuhan yang tahu apa yang Jarot bisikkan, tapi yang jelas Jarot memang masih terkapar.


SHOCK & PEMADAM KEBAKARAN

Sesaat kulayangkan pandanganku ke bagian belakang kursi-kursi dimana kami duduk. Seraut wajah tanpa dosa memandangku dengan malu-malu. Ah, Ariadi. Yang satu ini sama sekali nggak berubah sampai ke mimik mukanya sekali pun. Pancaran wajah anak baik, eh sekarang bukan anak lagi, lebih tepatnya pancaran wajah orang baik-baik masih jelas terlihat. Waktu tampaknya tak mampu mengotori Ariadi, tetap steril, tidak seperti teman-teman laki-laki lainnya yang Masya Allah deh. Dari dulu Ariadi memang tidak banyak bicara. Ekspresi mukanya lah yang lebih banyak berbicara. Yang menarik adalah ada ekspresi muka yang hampir sama dari Ariadi dari beberapa foto yang diambil oleh fotografer, yaitu ekspresi shock atau kaget. Berhubung Ariadi tidak cerewet seperti teman-teman laki-laki lainnya, akhirnya aku harus menterjemahkan sendiri arti ekspresi shock tersebut. Mungkin kira-kira inilah kata-kata yang terlintas di kepala Ariadi: “Loh? Kok gitu ya? Walah! Ya ampun! Hiiiiii.... Ck ck ck kok nggak tau malu ya?” dan terakhir Ariadi mau teriak begini, “Aaaaaaaaarrghhhhh....!!!!!”

Mungkin kalau Ariadi jadi teriak seperti itu dan ada Darmanto, maka semuanya akan beres. Tapi untungnya Ariadi sangat sopan untuk tidak menyuarakan isi hatinya melihat tingkah laku teman-temannya yang Masya Allah tadi, termasuk tingkahku tentunya. Jadi Darmanto nggak perlu memadamkan kebakaran emosi yang muncul. Sayang sekali Darmanto datang terlambat, jadi nggak banyak kontak yang bisa kulakukan dengannya selain berjabat tangan dan sebentar menyapanya. Kulit Darmanto masih sama seperti dulu, kelam. Tapi sekarang kelihatan kenceng, lebih berotot, lebih berisi. Sudah pasti profesinya sebagai pemadam kebakaran banyak melatih ototnya. Jadi nggak perlu seperti sobatku Haryo yang harus bersusah payah sampai mampus untuk push up dan set up demi menguruskan perut buncitnya. Ah sayang, Haryo nggak bisa dateng ke reuni ini. Back to Darmanto, walaupun Darmanto datang terlambat dan hanya bisa bertemu sebentar, rasanya hati ini seneng banget. Darmanto yang seharusnya nggak bisa meninggalkan posnya yang siaga 24 jam, rela meninggalkan resiko Semarang kebakaran demi kabur ke reuni ini. What a such beatiful friendship I had!


ANGEL AND THE DEVIL

Bicara tentang orang baik, ada lagi satu teman yang punya keteguhan hati begitu kuat bak seorang malaikat. Sugeng namanya. Sugeng juga datang terlambat, jadi Sugeng nggak tau ada kehebohan apa sebelum dia datang. Sugeng nggak paham bahwa teman-temannya masih sama nakal dan gilanya dengan 28 tahun lalu. Dengan langkai gontai yang tidak berubah Sugeng mendatangi meja tempat aku dan teman-teman berkumpul. Dan tanpa ada aba-aba semua berdiri berebutan bersalaman dengan Sugeng. Ah, teman-temanku walaupun gila ternyata begitu nice, begitu bersahabat. Jadi trenyuh dan nyesel nyebut gila, walaupun itu faktanya yang tidak dapat dipungkiri, he he he.
Saat Sugeng datang, di atas panggung Jarot sedang beraksi bernyanyi dengan mbak-mbak penyanyi. Tiba-tiba Sugeng dipersilahkan naik ke panggung oleh salah satu dedengkot usil di Laskar Gunung Brintik. Yang satu ini memang terlahir dan mungkin sampai akhir hayatnya bakal tetap usil. Dedengkot usil ini mengalungkan kertas bekas di leher Sugeng, serasa mengalungkan bunga ucapan selamat datang dan mendorong Sugeng untuk naik ke atas panggung. Sugeng terlihat kebingungan. Tampak kakinya sempat akan melangkah ke anak tangga panggung. Untungnya alarm hati Sugeng berbunyi, wajar kan karena kebaikan hati Sugeng just like an angel. Alarmnya mengingatkan bahwa si dedengkot usil adalah sama halnya dengan the devil yang selalu akan menyesatkannya di alam raya ini. Alarmnya mengingatkan bahwa mahluk itu masih sama dengan 28 tahun lalu yang cukup sering ngerjain dirinya. Dengan tersenyum Sugeng pun tidak jadi naik ke panggung dan gagallah upaya ngerjain Sugeng.

Ngomong-ngomong tentang the devil tadi, aku selalu nyegir mengingat semua tingkahnya. Nggak habis pikir ibunda teman satu ini ngidam apa sewaktu hamil dia. Nakalnya minta ampun. Semua jadi korban, nggak pandang bulu, termasuk guru pun jadi korban. Jujur dulu kadang sebel lihat tingkahnya. Coba bayangkan penderitaanku sebagai Ketua Kelas ngadepin teman seperti itu. Ampun deh. Tapi nggak tau kenapa, justru sosok ini yang paling kukangenin untuk kutemui. Sedari awal reuni dimulai, mataku selalu mencari-cari sosok ini. Sempat terpikir bahwa dia tidak akan datang. Ah, bakal broken heart deh. Tapi Tuhan memang sayang padaku. Mungkin untuk membalas penderitaanku sebagai Ketua Kelas tadi, Tuhan menuntunnya untuk datang ke reuni. Thanks God, akhirnya sosok hitam yang konon paling males mandi itu pun datang. Aih aih, ada kumisnya sekarang, lebat pula. Oh tidak! Tutur katanya kok jadi sopan begitu? Keajaiban dunia ke delapan kali ya? Tapi tunggu dulu, alamak matanya....masih jelalatan seperti dulu. Tingkahnya? Tadi kan sudah diceritain bahwa Sugeng hampir jadi korbannya. He is still the same. Saking sibuknya menceritakan keunikan sosok ini, aku lupa sebut namanya. Dia Sumargo, biasa dipanggil Jalidin.


KENAPA NGGAK GAGAH DARI DULU YA?

Waktu sepanjang 28 tahun sudah pasti merubah diri seseorang. Teman-teman perempuan including me, berubah berkembang melebar walaupun gradasi perubahannya berbeda-beda. Nah kalau yang teman-teman laki-laki perubahannya ke atas, jadi tinggi-tinggi euy. Sebangsa Koko dan Utoro lah, nggak imut-imut lagi. Tapi untungnya juga nggak amit-amit.

Nah di antara sebangsa Koko dan Utoro tadi ada 2 orang yang buatku sangat menyolok mata. Namanya Anton Tri dan Robert. Kedua teman ini selain manglingi juga sangat menyebalkan. Tau kenapa? Coba, gimana nggak marah, ternyata kami sama-sama kuliah di UGM di angkatan yang sama. Barengan dijemur di lapangan Bulaksumur nan terik waktu penggojlokan di awal masuk. Sama-sama sering nongkrong di Gelanggang Mahasiswa UGM. Lah kok bisa-bisanya nggak saling kenal?! Keterlaluan kan? Yaaaa walaupun sebetulnya yang keterlaluan aku juga sih. Jelas aku nggak akan ngenalin diri mereka kalaupun pernah ketemu di kampus Bulaksumur dulu. Gimana mau kenal, lha wong yang tertanam di memoriku Anton Tri dan Robert adalah cowok imut-imut. Anton Tri tumbuh menjadi tinggi besar jauh dari bayanganku. Robert pun demikian, walaupun tidak tinggi besar tapi postur tubuh Robert berubah banyak, cukup gagah lho. Ternyata teman-teman cowok sekarang lumayan ganteng-ganteng dan gagah-gagah. Sayang kok nggak dari dulu ganteng dan gagahnya ya? Tau gitu kan ada yang dikecengin waktu SMP.....

Di mataku dan teman-teman perempuan, sebangsa Koko, Utoro, Anton Tri dan Robert terbukti berhasil mengalahkan teman-teman laki-laki yang sedari SMP sudah berbadan besar, contohnya Ari Pujo. Di jaman SMP rasanya Ari Pujo adalah anak laki-laki terbesar (di luar satu nama yang masih berjemur di Bali yang konon dari bayi memang sudah bengkak). Sekarang di jaman modern ini, Ari jadi kalah jauh dibandingkan Anton Tri. Lucu rasanya melihat Ari justru menjadi yang agak kecil dibandingkan yang lain di Laskar Gunung Brintik. Itu jelas merusak memoriku tentang SMP. Tapi ya gimana lagi, sudah jelas Ari disalip sebangsa Koko, Utoro, Anton Tri dan Robert. By the way, it’s nice to see Ari Pujo came to this reunion. Ari sempat kena stroke tapi terlihat cukup sehat saat ini. God bless you friend.


AWARD PALING AWET ENOM

Saat waktu makan siang nggak tau kenapa perut ini sama sekali nggak lapar, walaupun secara hitungan matematis harusnya tenagaku terkuras untuk ber-ha-ha-hi-hi, berteriak dan berlari sana sini untuk mejeng difoto. Di sisi lain kadang aku menyukai suasana hening, duduk sendiri mengamati hilir mudik orang di sekitarku. Hal itu pun kulakukan saat semua teman sibuk menyantap makan siang khas Semarang yang disediakan panitia.

Waktu terkadang menjadi momok bagi sebagian orang karena akan merenggut penampilan dan kekuatan fisik. Banyak orang ingin menjadi awet muda. Di ajang reuni seperti ini, kata “awet muda” bak menjadi primadona. Keheningan saat aku duduk sendiri di saat yang lain makan siang membuatku sempat untuk melakukan penilaian penentuan siapa yang sepantasnya mendapat award awet muda. Sambil sesekali aku menahan tawa melihat beberapa sosok teman dari kelas lain yang bersliweran, yang dulu cukup ganteng tapi sekarang nggak ada bekas gantengnya sama sekali dengan perut berlipat-lipat penuh dengan pager. Intermezo lah. Kemudian aku pun kembali melakukan penilaian award awet muda tersebut.

Ada beberapa nominator, tapi untuk teman perempuan sudah jelas Nanyk muncul sebagai pemenangnya. Rasanya wajah Nanyk tidak ada perubahan sama sekali. Caranya menatap dan lirikan matanya (yang pernah bikin satu teman laki-laki pernah termehek-mehek) masih sama seperti Nanyk 28 tahun yang lalu. Hanya rambutnya yang berubah menjadi panjang dan berombak. Semoga awet mudanya Nanyk ini nggak membuat yang termehek-mehek tadi kumat termehek-meheknya...peace man.

Untuk teman laki-laki aku cukup yakin memilih Anton Raharjo sebagai pemenangnya. Buatku kalau saja kami pernah berpapasan di jalan aku pasti akan mengenalinya. Memang beberapa keriput muncul di wajahnya, tapi sama sekali nggak merubah struktur mukanya. Kalau Eddi tetep gendut karena bisnis kuliner, mungkin Anton Raharjo awet muka karena bisnis salon dan anti aging cream kah?


AWARD PALING MANGLINGI

Selain award awet muda, aku juga menganugerahkan award paling manglingi. Terlepas dari makin lemotnya otakku dan teman-teman berhubung usia makin tidak kompak untuk menjaga memori, ada 1 teman perempuan yang memang betul-betul 200% manglingi. Pilihanku jatuh pada Kristina. Bukan karena faktor KKN gara-gara kami dulu sering pulang bareng naik angkot, tapi kenyataannya struktur muka Kristina memang berubah total. Tri Wahjuni merupakan pesaing terdekat, tapi Kristina ini keterlaluan sekali manglinginya. Saking manglinginya, Jarot sampai akhir acara masih kebingungan siapakah Kristina itu. Sampai akhirnya aku harus cari katalog SMP dimana ada foto-foto jadul kami. Tanganku sibuk membalik-balikkan katalog mencari foro Kristina. Setelah foto jadul Kristina ketemu, Jarot pun bolak-balik menatap foto itu bergantian dengan menatap Kristina yang duduk di belakangnya. Masya Allah segitunya deh si Jarot ini. Kristina jadi tersipu-sipu karena Jarot begitu agresifnya. Tapi syukur akhirnya amnesia Jarot pun sembuh sambil berteriak, “Ooo iki tho Kristina....”.

Untuk teman cowok award paling manglingi agak susah nentuinnya, berhubung banyak dari mereka yang berubah. Tapi aku pantang ngitung kancing untuk memilih, mendingan ngitung duit terus dibuat belanja lah. Dari persaingan yang ketat itu aku pilih Rudy sebagai penerima award paling manglingi. Faktor penentu Rudy menerima award ini bukan masalah perutnya yang membuncit, tapi wajah Rudy jauh berbeda dengan bayanganku akan Rudy jaman baheula. Seingetku dulu Rudy berwajah tirus, kenapa sekarang jadi berwajah agak kotak ya? Operasi plastik kah? Atau ini akibat termehek-mehek yang berkelanjutan? Ah, terlalu hiperbola prasangkaku. Kalau saja aku tidak tertolong oleh tehnologi Blackberry yang memberi bocoran tentang tampang Rudy sekarang ini, sudah pasti aku nggak akan nyapa kalau ketemu Rudy di Plasa Senayan atau Grand Indonesia. Tapi ada satu hal yang tidak manglingi dari Rudy: seleranya memilih wanita ternyata masih sama......teteeeeep.


JAGOAN NGILANG DI KELURAHAN

Jam sudah menunjukkan hampir jam 14.00. Ah, reuni sudah hampir berakhir desahku. Aku pun melayangkan pandangan ke sekitarku. Sebentar lagi aku akan berpisah dari mereka. Sebelum hari ini aku tidak pernah menyangkan bahwa aku merasa begitu kesengsem ketemu dengan Laskar Gunung Brintik. Memori akan kejadian-kejadian di 28 tahun lalu pun menari-nari di kepalaku. Tapi nanti dulu, ada 2 orang yang belum sempat kuajak ngobrol tapi sekarang nggak keliatan ada dimana. Aku pun bergerak ke belakang keluar ruangan. Siapa tau mereka ada di sana? Hmmmm, nggak ada juga. Kemana Basuki dan Fajar? Aku hanya sempat bersalaman dengan mereka, nyaris belum ada komunikasi berarti antara kami. Suciatmo salah satu teman laki-laki mengatakan bahwa ia melihat Basuki dan Fajar sudah pulang. Loh? Kan mereka baru sampai? Heran, Fajar dan Basuki jadi jagoan ngilang gini ya? Mungkin ada hal lain yang mendesak yang membuat mereka terburu-buru pergi. Semoga saja bukan faktor the devil yang membuat mereka terbirit-birit.

Mungkin juga faktor ketidaksabaran yang membuat mereka tidak betah duduk lama di dalam aula sekolah yang walaupun ber-AC sudah mulai memeras keringat kami untuk berlomba-lomba mengucur. Tidak adanya Fajar dan Basuki membuatku pun melirik Suciatmo dan membayangkan kalau saja Fajar dan Basuki datang ke kantor Suciatmo untuk perpanjangan KTP atau KK, mungkin pantat mereka sudah gatal karena duduk kelamaan untuk antri. Dan karena ini bukan reuni yang bisa ditinggal begitu saja, aku membayangkan mereka berdua mendatangi Suciatmo dan mengajukan complain. Halusinasiku terus berlanjut. Kemudian aku membayangkan Suciatmo dengan senyumnya yang malu-malu dan tulus menerima complain mereka. Sikap Suciatmo yang halus, cocok jadi pegawai pemerintah yang melayani masyarakat. Untungnya dalam halusinasiku tidak muncul Handoko yang konon rajanya complain. Mungkin Suciatmo bakal pingsan kalau yang complain Handoko.


AKHIR SEBUAH CERITA

Jam pun berdetak makin mendekati akhir yang sama sekali tidak kunanti. Hiiiih, bisa nggak ya jamnya dibanting saja dan semua di-freeze saja, jadi aku bisa menikmati waktu-waktu indah bersama Laskar Gunung Brintik-ku. Kalau boleh berteriak aku ingin bilang, “More!!!!!!”. Sayangnya aku masih sadar untuk tidak dibilang gila. Tapi ada satu yang rasanya hilang. Aku kok merasa ada sesuatu yang belum terpenuhi ya? Sesuatu yang begitu penting tapi terlupakan. Ah! Aku belum lihat Mulyono! Where is my man? Ini tokoh yang paling berpengaruh di Laskar Gunung Brintik era sekarang. Aku harus ketemu Mul yang sudah bersusah payah mengumpulkan sebagain besar dari Laskar Gunung Brintik datang berkumpul di reuni ini. Ah, itu dia Mul! Tapi wajah Mul terlihat lelah, tampaknya Mul nggak bisa enjoy dengan suasana yang ada. Ekspresinya penuh tekanan. Ini aku masih halusinasi atau beneran ya? Pikirku kemudian, “Oh, mungkin Mul kecapean”. Terkadang manusia memiliki pertahanan diri yang kuat saat mempersiapkan suatu peristiwa penting, dan justru di saat peristiwa penting itu terealisasi pertahanan dirinya sudah mulai habis. Mungkin Mul mengalami hal tersebut. Atau mungkin aku terlalu sok tau berteori. Atau mungkin Mul tidak cape tapi memang wajahnya seperti itu.....walah kasian amat ya?

Tapi apapun kemungkinan itu aku sangat berterima kasih pada Mul yang sudah dengan tulus dan all out merealisasikan semua momen indah ini.
Semua teman rasanya sudah kubahas. Bagaimana dengan diriku sendiri? Aku pun melihat diriku sendiri. Siapakah aku saat ini? Berubahkah aku dibanding 28 tahun lalu? Banyak gejolak dan pengalaman hidup yang sudah menempaku selama ini. Aku tidak lagi merasa sebagai Wulan atau Jawul yang kurus kering yang sering terombang-ambing dengan keraguannya. Malahan sometimes aku merasa terlalu confidence. Entah kemana kaburnya keraguan itu. Aku juga merasa lebih lepas menjalani hidup ini. Tapi ada juga yang masih tetep dan nggak hilang: galak!

Tidak semua teman Laskar Gunung Brintik bisa kutemui dalam reuni ini. Tapi rasanya belum ada teman yang berpulang lebih dulu ke rumah Tuhan. Alhamdulillah, Tuhan memberikan kesehatan dan keselamatan kepada Laskar Gunung Brintik. Mungkin kalau ada yang sudah berpulang lebih dulu, di atas sana dia akan mengelus dada sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berkata kepada malaikat di sampingnya, “Malaikat, mengapa Tuhan belum membuat mereka sadar juga ya? Mereka masih sama gila dan nakalnya dengan 28 tahun lalu. Ah, terlalu......”.


#######
Labels: |
Sukmalanu
Akhirnya jadi juga ikut reuni perak. Yup, reuni perak yang artinya Saya sudah melewati waktu sebanyak 1/4 abad sejak menjejakkan kaki di Bulaksumur sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi UGM. Tua betul yaaaa.........

21-22 Oktober 2011 akhirnya reuni berjalan dengan penuh kegilaan...........mau lagiiii! Salah satu acara adalah talkshow, dan kebetulan jadi korban untuk jadi narasumber. Berikut ringkasan cuap-cuapnya:..... Sebetulnya agak haram posting tulisan ini disini karena blog ini harusnya bersih dari noda-noda rutinitas pekerjaan. Tapi berhubung reuni perak cuma sekali, ya sudahlah.......hayuuuk diposting aja...

Untuk detil silahkan klik di http://psikologiugm86.blogspot.com/



"LULUSAN PSIKOLOGI MENJADI ENTREPRENEUR? KENAPA TIDAK!"


Halo Bulaksumur! Saya harus memulai tulisan ini dengan menorehkan satu kata yang sangat bermakna dalam kehidupan Saya: “Bulaksumur”. Di tempat itulah Saya merasakan tempaan dan dilepas untuk memulai perjalanan profesi Saya untuk menjadi seseorang seperti saat ini.

Adalah sangat relatif untuk mengartikan menjadi seseorang tersebut. Apakah Saya atau Anda harus menjadi Direktur? Harus menjadi Profesor? Atau menjadi Ratu Rumah Tangga? Sudah barang tentu kita akan memilih yang terbaik sesuai mimpi kita masing-masing. Terlepas dari apa yang sudah kita rencanakan, ada kalanya kenyataan menjadi seseorang adalah tidak selalu sesuai dengan mimpi-mimpi kita.

Ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Pengalaman pribadi Saya selama 20 tahun mengarungi dunia profesional menyimpulkan bahwa faktor hard competency, soft competency dan jalan hidup merupakan 3 faktor utama yang menentukan hal tersebut. Jika Saya merujuk pada iceberg theory yang dikemukakan oleh Mc Clelland, maka kita dapat melihat bahwa komponen-komponen dalam soft maupun hard competency berupa self image, value, trait, perilaku, pengetahuan dan ketrampilan dibentuk oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan yang salah satunya adalah pendidikan.

Karena itulah peran Univertas Gadjah Mada (UGM) sebagai salah satu tempat pendidikan tinggi menjadi begitu besar dalam kehidupan Saya dan seharusnya demikian pula dengan semua mahasiswa UGM. Banyak hal yang sudah Saya dapatkan dalam era kehidupan Saya sebelum kuliah, yang dipertajam oleh kesempatan dan tangan-tangan pembimbing selama Saya hidup di Bulaksumur. Saya tidak dapat menyangkal bahwa self image Saya terbentuk makin jelas dengan datangnya berbagai kesempatan untuk menunjukkan potensi diri selama Saya belajar di Fakultas Psikologi UGM maupun di Gelanggang Mahasiswa UGM sebagai fakultas kehidupan diri Saya lainnya. Saya harus mengakui bahwa social value dalam diri Saya terbentuk sejak Saya mengenal jiwa kegadjahmadaan yang merakyat, yang terus terbawa hingga detik ini. Pengetahuan yang sangat membantu Saya menjadi konsultan yang mampu mendesain alat ukur sendiri pun diperoleh melalui tempaan tangan-tangan pendidik di Fakultas Psikologi UGM.

Ada satu hal yang belum Saya singgung yaitu faktor jalan hidup atau biasa disebut sebagai nasib. Satu kata yang tidak ilmiah untuk dibahas namun merupakan kenyataan yang harus diterima kita sebagai manusia. Jujur Saya tidak pernah memimpikan diri Saya untuk menjalani profesi di dunia psikologi industri, namun jalan hidup membawa Saya menuju profesi tersebut dan saat ini sangat menikmatinya secara lahir dan batin. Pada awalnya, mimpi Saya untuk berkarir di dunia international NGO dengan menerapkan psikologi sosial terhempas karena masalah pribadi. Namun Saya bersyukur bahwa Fakultas Psikologi UGM telah menyiapkan Saya untuk menjadi generalist yang memiliki cadangan ilmu, sehingga Saya pun mampu dengan segera melakukan pendaratan yang mulus di dunia psikologi industri sejak 1991 dan kemudian beralih menjadi enterpreneur di dunia yang masih terkait dengan psikologi industri sejak 1998. Saya memulai kiprah sebagai enterpreneur di bidang jasa manajemen dan pengembangan SDM dengan modal Rp 3,500,000,- dan awalnya hanya berkantor di ruang tidur pribadi Saya, yang sekarang berkembang dengan cakupan layanan pada klien perusahaan dalam negeri maupun perusahaan asing dan mampu berkompetisi dengan worldwide consultant.

Saya tampil di talkshow ini sebagai representasi rekan-rekan angkatan 86 yang berprofesi sebagai entrepreneur, suatu profesi yang kembali harus jujur Saya akui, tidak Saya rajut dalam mimpi-mimpi Saya sebelumnya. Dalam talkshow Saya melemparkan satu pertanyaan khusus pada adik-adik mahasiswa yang hadir saat itu: “Siapa yang berminat menjadi entrepreneur?”. Dan sesuai perkiraan Saya tidak sampai 10% dari mereka mengacungkan tangannya. Ini adalah kenyataan di Indonesia bahwa minat untuk menjadi entrepreneur tidak tumbuh atau tidak ditumbuhkan sedari dini. Produk pendidikan tinggi di Indonesia pada umumnya merupakan tipikal pencari kerja bukan pencipta kerja. Data penunjang mengenai hal ini dapat dilihat dari jumlah entrepreneur di Indonesia yang hanya sebesar 0,24%* dari jumlah penduduk, di bawah dari jumlah entrepreneur di Malaysia yang mencapai 3%, Singapura 7% dan terlebih lagi dibandingkan Jepang yang mencapai 10% dan Amerika Serikat yang mencapai 11,7%*. Sementara Mc Clelland menyatakan bahwa untuk mencapai kebangkitan ekonomi suatu negara, dibutuhkan minimal 2% dari penduduknya berani menjadi entrepreneur yang akan menciptakan kesempatan kerja dan kemudian membantu menggerakkan ekonomi.

Dari data di atas tergambar jelas bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang berani menjadi entrepreneur. Dan tentunya ini juga menjadi salah satu tugas UGM sebagai salah satu pencetak manusia-manusia Indonesia yang unggul, termasuk juga tugas Fakultas Psikologi UGM. Untuk lebih meruncingkan pembahasan kita, Saya ingin memunculkan pertanyaan tentang: kapan sebaiknya seorang lulusan Fakultas Psikologi menjadi entrepreneur? Apakah begitu ia lulus atau setelah ia menjajal dunia kerja sebagai profesional?

Saya merupakan contoh tipikal yang menempuh cara kedua, yaitu tipikal yang memberanikan diri menjadi entrepreneur setelah 7 tahun menjajal dunia kerja sebagai profesional. Titik hidup Saya berbalik 1800 di tahun 1998 saat Saya memutuskan untuk membuang kenyamanan sebagai profesional yang mapan di suatu perusahaan beralih menjadi entrepreneur yang masuk ke hutan belantara persaingan bisnis yang beresiko.

Bagaimana dengan tipikal yang menempuh cara pertama, yang begitu lulus langsung menjadi entrepreneur? Berangkat dari kurikulum dan tujuan pendidikan Fakultas Psikologi yang bertujuan akhir mencetak profesi psikolog, menurut hemat Saya sebaiknya sedari dini mahasiswa Psikologi disiapkan untuk menjadi entrepreneur, baik secara karakter maupun ketrampilan. Hal ini juga semestinya dilakukan untuk pendidikan profesi lainnya seperti Akuntan, Farmakolog, Dokter dan lain-lain. Mereka ini adalah mahasiswa yang seharusnya lebih banyak ditempa dibandingkan dengan mahasiswa fakultas lain untuk menjadi entrepreneur. Pertanyaannya: mungkinkah seorang lulusan Fakultas Psikologi yang masih fresh graduate menjadi entrepreneur?

Untuk menjawab hal tersebut Saya ingin berbagi mengenai apa yang dibutuhkan untuk menjadi entrepreneur. Secara mikro pengalaman 13 tahun sebagai entrepreneur khususnya di dunia jasa konsultan manajemen dan pengelolaan sumber daya manusia, membuat Saya dan teman-teman di PT Asta Brata Swastika (Ab Consultant) menyimpulkan bahwa untuk menjadi entrepreneur yang berhasil dibutuhkan beberapa karakter yang disebut sebagai 4C yang terdiri dari* :
•Courage
•Commitment
•Capability
•Cooperativeness


COURAGE & COMMITMENT
Seorang lulusan Fakultas Psikologi perlu memahami bahwa entrepreneurship adalah dunia yang lebih ganas dibandingkan dunia sebagai profesional yang bekerja di perusahaan. Dunia ini adalah ajang rally dimana kita harus berkompetisi ketat. Untuk bisa ikut dalam rally tersebut, seseorang harus memiliki Courage dan Commitment. Dalam rally tersebut banyak hal yang tidak pasti akan terjadi, sehingga jika ia tidak memiliki Courage yaitu rasa percaya diri dan keberanian berkompetisi yang kuat sebaiknya ia tidak menjadi enterpreneur.
Selain itu ia juga harus memiliki Commitment yang kuat untuk mencapai finish atau mencapai targetnya dengan berhasil. Akan banyak tikungan tajam yang menghadang dan mungkin juga upaya saling menjatuhkan demi mencapai finish pertama. Untuk itulah komitmen dan keteguhan dibutuhkan. Bila hanya sekedar ingin mencoba rally sebaiknya ia tidak menjadi enterpreneur, karena hal tersebut hanya membuang waktu, tenaga, emosi dan dana.


CAPABILITY & COOPERATIVENESS
Untuk muncul sebagai pemenang dalam rally tersebut, seseorang mutlak memiliki Capability berupa kemampuan, ketrampilan, wawasan dan attitude, dimana semua itu hanya akan didapatkan bila ia memiliki fleksibilitas dan open-mindedness yang tinggi, serta willingness dan ability to learn yang kuat. Terlebih lagi bagi kita yang menerapkan ilmu psikologi dimana harus disadari bahwa ilmu psikologi bukanlah ilmu yang dapat berdiri sendiri, karena keterkaitannya yang erat dengan ilmu lain seperti sosiologi, statistik, manajemen dan masih banyak lagi. Karena alasan ini pula Saya menamakan organisasi yang Saya dirikan bersama rekan-rekan Saya sebagai “konsultan” bukan sebagai “biro psikologi” karena Saya dan tim harus mampu menjawab persoalan klien dengan beragam pendekatan ilmu.

Selain itu untuk menjadi pemenang rally, dibutuhkan Cooperativeness yang tinggi. Seorang entrepreneur bukanlah seorang single fighter, ia harus mampu menjadi partner, manager dan sekaligus leader yang baik, tidak hanya terhadap bawahannya tetapi juga terhadap begitu banyak associates atau partners yang umum digunakan dalam bisnis jasa konsultan. Dan tidak ketinggalan juga perlunya sikap kooperatif terhadap pelanggan atau klien, yang harus dijaga tingkat kepuasaannya demi terciptanya ripitasi hubungan bisnis, namun tetap dengan menjaga kode etik yang berlaku.

Dengan capability yang kuat maka kita akan mampu memahami lika-liku arena rally dan memiliki kemampuan untuk menaklukkannya. Dan untuk memenangkan rally dibutuhkan tim teknis yang andal, yang akan menyiapkan kendaraan yang ditumpangi mampu melaju kencang. Karena itu cooperativeness sangatlah dibutuhkan.


Karakter-karakter 4C tersebut tidak lain adalah soft dan hard competency yang sudah dibahas di awal tulisan ini. Mampukah lulusan Fakultas Psikologi UGM menjadi entrepreneur yang handal? Tantangannya adalah sebuah data yang menyebutkan bahwa orang Indonesia kurang suka berkompetisi. Data riset Ab Consultant menyimpulkan bahwa sejumlah 60% (dari 3000 responden riset yang dilakukan sejak 2008) suka berprestasi namun kurang suka berkompetisi*. Saya tidak memiliki data khusus tentang karakter lulusan Fakultas Psikologi UGM, namun meminjam data tracer study & labour market UGM tahun 2003* disebutkan bahwa lulusan UGM cenderung low profile yang menyebabkan karakternya kurang bisa menjual diri. Hal ini senada dengan temuan riset Ab Consultant di atas. Ini jelas merupakan hambatan karena keberanian berkompetisi termasuk menjual kemampuan diri merupakan faktor dasar yang harus dimiliki entrepreneur untuk dapat mengikuti rally sebagaimana telah dijelaskan dalam konsep 4C.

Namun pepatah mengatakan tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar dan berubah. Lulusan Fakultas Psikologi UGM mungkin memang memiliki ciri khas low profile, dan hal itu menurut hemat Saya tidak harus dirubah secara drastis. Kita tidak mungkin merubah seekor ayam jantan untuk mampu terbang seperti seekor burung elang. Yang dapat dilakukan adalah mengarahkan bagaimana sikap low profile tersebut mampu disertai dengan keyakinan akan kemampuan diri. Untuk itu lulusan Fakultas Psikologi UGM harus menemukan personal brand-nya agar lebih percaya diri. Berdasarkan pengalaman di lapangan, Saya menyimpulkan bahwa seharusnya lulusan Fakultas Psikologi UGM dapat mengedepankan kemampuan pengolahan data statistik sebagai personal brand-nya. Tidak banyak lulusan Fakultas Psikologi lain yang memiliki pengetahuan dan kemampuan tersebut. Sayangnya Saya melihat lulusan Fakultas Psikologi UGM seakan tidak tahu akan kelebihannya ini dan kalaupun mereka tahu akan hal tersebut, mereka bersikap kurang optimal dalam menunjukkannya.

Sebagai konsultan yang berbendera lokal Indonesia, Saya dan teman-teman di PT Asta Brata Swastika justru sangat mengedepankan pengetahuan dan kemampuan kami dalam hal statistik dan konstruksi tes, yang membuat kami mampu dipercaya dan dihargai oleh perusahaan-perusahaan asing dan mampu bersaing dengan worldwide consultant sekali pun. Dengan kemampuan itu Saya menjadi lebih nasionalis dalam berkarya, terpacu untuk terus menerus membuktikan bahwa konsultan Indonesia mampu menciptakan produk dan memberikan layanan berkualitas internasional. Jika Saya dan teman-teman di PT Asta Brata Swastika mampu melakukannya, Saya yakin lulusan Fakultas Psikologi UGM lainnya juga akan mampu melakukannya. The sky is the limit, kita harus yakin bahwa kita mampu terbang kemana pun kita mau.

Saya beserta rekan 86 lainnya yaitu: Eko Tjia, Clara Winarsih, Candra Mintara, Wiwin Prasetyo, Dani Prakoso dan beberapa lainnya merupakan salah satu contoh produk Fakultas Psikologi UGM yang mampu menjadi entrepreneur. Keberhasilan kami adalah juga berkat bekal dan tempaan karakter yang kami dapatkan selama hidup di Bulaksumur. Namun tentu saja banyak hal lain yang kami lakukan sendiri di luar bekal yang kami dapat tersebut. Hidup adalah proses belajar, di mana pun dan kapan pun.

Kembali ke pertanyaan sebelum ini tentang kapan sebaiknya seorang lulusan Fakultas Psikologi menjadi entrepreneur, Saya menyarankan untuk menjawabnya dengan kesiapan 4C yang dimiliki setiap lulusan. Untuk itu akan lebih baik bila sedari awal seorang mahasiswa Psikologi lebih proaktif menyiapkan diri untuk memiliki 4C dan dibantu disiapkan oleh Fakultas secara lebih sistematis menjadi seorang entrepreneur untuk menjawab tantangan bisnis saat ini yang makin cepat berubah.

Saya berharap tulisan ini mampu menjawab pertanyaan dan tantangan yang tertera dalam judul di atas. Sky is the limit, maka lulusan Psikologi pasti mampu menjadi entrepreneur yang berhasil, asalkan ia memiliki karakter 4C. The right character will define who we are!


Ditulis oleh:
Juni Wulan Dewi
Founder, Senior Consultant & Board of Directors member of
PT Asta Brata Swastika (Ab Consultant & Ab Publisher)
www.ab-cons.com


Sumber data (*):
· “Analisa Preferensi Kerja Manajer di Indonesia”, Riset & Pengembangan Ab Consultant-PT Asta Brata Swastika, 2011.
· Data BPS 2010
· “Model Mahasiswa Yang Berdaya Saing”, Alvin Fadila Helmi, Fakultas Psikolog UGM, 2004 (tentang data tracer study & labour market UGM).
· “Winning Spirit Model”, Sunu Triwidada, Ab Consultant-PT Asta Brata Swastika, 2011.
Labels: |
Sukmalanu
Seharusnya tulisan ini dibuat Juni lalu. But the first semester of 2011 was the most hattict time for me. Gosssh......so many workssssss to do, so many targets and tension. Maraton ngeladenin klien ke luar kota, motivating & preparing Bima to fight at national competition, preparing CISV delegation to go to Modena Italy, becoming a volunteer for AFS to select Indonesian young ambassador to go to US & Europe and also my routine activity as KBPA's volunteer.......argggghh...... Ooh satu lagi: preparing my girl's college who will come home from Italy after 1 year program of AFS.........Busyet dah!

Andai badan bisa di-copas enak betul kali ya?

Semua sudah berlalu, dan Alhamdulillah semua berakhir dengan sangat baik setelah berdarah-darah....:). Back to my posting title: "Arti Sebuah Kemenangan" yang kutulis untuk ananda Bima (You have a very wonderful and meaningfull life journey for this year, handsome). Tahun lalu kutulis sepenggal cerita tentang Bima dan storytelling (Storytelling, What a Wonderfull Tool). Tulisan ini adalah versi cerita bersambung dari tulisan tersebut.

Bonnie Blair salah satu atlet Amerika terbaik mengatakan: Winning doesn’t always mean being first, winning means you’re doing better than you’ve done before. Sebuah kata-kata bijak yang memacu kita untuk tidak merasa putus asa. Maju ke kancah lomba, pertandingan atau apapun yang bersifat kompetisi pastilah membawa beban bagi diri seseorang. Termasuk juga bagi Bima seorang ABG yang baru akan menginjak usia 14 tahun saat itu. Beban sebagai juara propinsi Jawa Barat tahun lalu yang tidak berhasil mendapatkan medali di kancah nasional dan hanya menjadi finalis merupakan beban psikologis besar. Andaikan aku berada dalam kondisi Bima, mungkin situasinya akan lebih parah karena aku relatif lebih mudah stres dibandingkan Bima yang sebetulnya merupakan anak yang sangat easy going.

Seperti yang kutulis di Storytelling, What a Wonderfull Tool, bagi kami sebagai orangtua Bima kekalahan di tahun lalu tetaplah kemenangan karena tidak semua anak akan mampu mencapai prestasi Bima, dimana sebagai murid kelas 1 SMP mampu menjadi juara propinsi dan finalis nasional. It's not about win or loss. It's about how people can develop themselves through storytelling. Namun Bima hanyalah anak-anak yang mungkin belum mampu memahami filosofi sedalam itu.

Sejak akhir 2010 pergolakan diri Bima untuk kembali maju bertarung di Festival Seni & Lomba Siswa Nasional (FLS2N) cabang english storytelling makin kentara. Lomba demi lomba untuk testing the battle ground mulai dijalaninya. Jakarta, Bekasi, Serpong semua dijabanin untuk melihat talent-talent dan potensi 3 propinsi (DKI, Jabar dan Banten). Naik turunnya emosi, rasa percaya diri, denial dan sebagainya muncul bergantian semasa itu. Belum lagi tuntutan akademik yang tinggi di sekolah Bima mengharuskan setiap 2 minggu sekali Bima harus menjalani weekly test.

Singkat kata setelah melalui berbagai lomba dan bisa mendapatkan peta calon competitor, Bima pun maju ke FLS2N tingkat Kotamadya Bekasi. Daaaang! Pertarungan pun dimulai. Ini adalah awal kompetisi untuk menuju tingkat nasional. Kalau Bima lolos dari tingkat Kotamadya, baru Bima bisa masuk ke tingkat Propinsi dan akhirnya tingkat nasional.

Motivasi Bima makin mengendur karena salah satu competitor di tingkat Kotamadya sempat mengalahkan Bima di sebuah lomba di Serpong. Saat itu Bima hanya menjadi juara 3 walaupun penonton memihak Bima sebagai favorit mereka. Satu competitor lainnya juga sempat mengalahkan Bima di lomba lainnya, dimana Bima hanya menjadi juara 2. Bisa dibayangkan betapa mindernya Bima sebagai juara bertahan harus menghadapi competitors yang sempat mengalahkannya dalam ajang yang lebih kecil. Wuih, semua tehnik dan jurus motivasi pun harus dikeluarkan untuk membantu Bima. Syukur kerjasama kami dengan Miss Yuli pendamping Bima dari GPS berjalan baik.

Saat itu Bima maju dengan semangat kalah. Aaaah kasian sekali anak ganteng ini. Ternyata Bima memang belum sanggup memanage dirinya. Namanya juga anak-anak.... Hanya ini yang akhirnya bisa kulakukan, merengkuhnya dan mataku pun menatap tajam pada bola mata Bima. Lihat mata Ibu nak, dengarkan apa yang Ibu bilang: JANGAN PERNAH TAKUT UNTUK KALAH. Do your best, jangan pikirkan menang atau kalah. Apapun hasilnya you are still my hero, man.

Jujur sebetulnya tingkat stresku lebih menggelora saat itu. Tapi Bima tidak boleh tahu itu. Aaah, tidak ada manusia yang menginginkan kekalahan bukan? Manusiawi jika di dasar hati kami mengharapkan Bima kembali memenangkan kompetisi ini. Di atas kertas berdasarkan perhitungan matematis Bima mempunyai kans besar untuk kembali menjadi juara 1 walaupun ada beberapa competitor yang berat. Semua sangat tergantung kualitas juri, dan hanya Tuhan yang tau tentang itu.

Detik demi detik terasa begitu lama dan mendebarkan dalam ajang tingkat Kotamadya tersebut. Dan setelah semua berlalu, kami menengok ke belakang ternyata tingkat Kotamadya ini memang merupakan ujian terberat bagi Bima untuk mampu keluar dari pergulatan dirinya.

Akhir cerita menyimpulkan bahwa ternyata aku under estimate terhadap Bima. Walaupun berbagai sikap seperti denial, reaksi formasi dan lainnya ditunjukkan oleh Bima, di atas pentas Bima tetap mampu memanage dirinya, memukau serta membuat juri dan penonton terbahak-bahak. Aku pun berteriak dalam hati: that is my man!!

Jujur lagi, kalau Allah menempatkanku di panggung itu, mungkin kehancuran yang akan kutunjukkan. Ah, ternyata Bima mampu keluar dari cangkang kekhawatirannya. Entah apa yang merasukinya, tapi aku percaya bahwa untuk sampai pada taraf itu Bima harus bekerja keras mengalahkan dirinya sendiri. Aku pun tersenyum dan bersyukur: terima kasih ya Allah untuk cobaan ini, karena tanpa cobaan ini Bima nggak akan bertambah dewasa. Matur nuwun Gusti.

Bima pun menjadi juara 1 tingkat Kotamadya dan berhak mewakili Kotamadya Bekasi di tingkat Propinsi Jawa Barat. Pertisiwa pun berulang di tingkat Propinsi, namun Bima sudah lebih mampu menguasai dirinya. Di titik ini Bima buta terhadap competitors-nya karena belum pernah bertemu dengan wakil seluruh Kota dan Kabupaten Jabar lainnya. Singkat kata Bima bisa dengan lebih rileks menata dirinya dan menunjukkan kebolehannya, termasuk saat menghadapi sesi tanya jawab dengan juri setelah penampilannya. Aku tidak pernah tau darimana datangnya sikap rileks dan kreativitasnya menjawab dengan bahasa Inggris yang jauh di atas rata-rata tersebut dan membuat juri kebingungan untuk bertanya ulang. Kalau mengingat ke belakang aku hanya bisa tersenyum membayang Bima kecil hobi berteriak "I kick your butt" sebagai kalimat favorit bahasa Inggrisnya yang pertama.

Bima pun kembali menjadi juara 1 propinsi Jawa Barat. Naaaaah, menuju tingkat nasional adalah beban besar lainnya. Bima masih trauma dengan kekalahannya tahun lalu dan di sisi lain Jawa Barat sendiri menargetkan untuk kembali merebut gelar juara umum yang sempat direbut Jawa Tengah tahun lalu. Dan Bima definitely diberi beban untuk mendapatkan medali. Gosh, he is just a kid!

Bagaikan film, fase-fase bergejolaknya emosi dan percaya diri Bima kembali muncul saat menginjakkan kaki di Makassar untuk mengikuti tingkat nasional. Dan wuuuush....! Seperti yang sudah di-trace dan dipetakan sebelumnya, Bima pun harus bertemu dan bertarung dengan wakil Jawa Tengah yang tahun lalu juara 2, dan wakil Banten yang sempat mengalahkan Bima di sebuah lomba di Serpong. Senyum dan sapa pun ditunjukkan Bima, tapi begitu berbalik sampai di kamar Bima pun mulai keluar penyakit childish-nya.

Apa lagi yang bisa kuperbuat sebagai orang tua sekaligus coach Bima? Sama halnya dengan yang dilakukan di tingkat Kotamadya, satu kalimat ini yang meluncur kembali dari bibirku: JANGAN PERNAH TAKUT KALAH, nak. Aku paham bahwa Bima tidak ingin mengalami kekalahan kedua kalinya di tingkat nasional. Dan trauma akan kualitas juri tahun lalu yang dipertanyakan masih membayanginya.

Belajar dari kesalahanku bersikap under estimate terhadap kematanga Bima, aku pun mengajak Bima untuk bertukar pikiran, untuk melihat suatu resiko akan pertandingan, dimana ada kekalahan dan ada kemenangan. Jika takut untuk kalah, kuajak Bima untuk mundur saat itu juga, which is aku tau hal itu tidak mungkin dilakukannya karena Bima membawa nama propinsi secara formal. Kuajak Bima untuk merenungi bahwa walaupun ia kalah ia akan tetap dikenang sebagai pemenang propinsi 2x berturut-turut, yang mana belum pernah ditunjukkan oleh siswa manapun sebelum ini di Jawa Barat.

Setelah kupikir-pikir lagi momen ini tidak hanya membuat Bima belajar dan berkembang, tapi aku dan mas Sunu sebagai orangtua juga banyak belajar. Tepatnya belajar untuk lebih menghargai kemampuan Bima yang sudah mulai mampu diajak berpikir logika dan analitis. Yup, he is not a kid anymore.

Karena itu kuajak juga Bima untuk mempelajari profil competitors-nya dan membandingkan dengan profil dirinya, kelebihan dan kekurangan dirinya. Bima pun pelan namun pasti merasa yakin akan adanya kelebihan yang tidak dimiliki competitors-nya. Di tingkat nasional ini tidak ada peserta yang memiliki english skill jelek, dan semua mampu tampil memukau dengan kemampuan acting masing-masing. Kuajak Bima untuk menganalisa bahwa ada 1 hal yang tidak muncul di diri competitors yang kebetulan justru merupakan kelebihan Bima. ABG ini pun kuajarkan cara melakukan SWOT analysis (strength-weakness-opportunity-threat analysis) yang biasa dilakukan di dunia bisnis. He... he...

Bima pun akhirnya menemukan personal brand dirinya, sebagai story teller yang kocak. Dia pun mulai mampu mendefinisikan dirinya bukan sebagai badut namun mampu tampil membawakan cerita yang bermakna dan cerdas dengan gaya kocak. Lagi-lagi jujur bahwa tidak mudah melakukan hal tersebut. Dibutuhkan kesabaran berlapis-lapis untuk membimbing Bima melakukan hal tersebut. Ah, ternyata Allah juga sedang membantuku untuk menjadi lebih sabar......:)

Bima tampil maksimal di ajang nasional, dan menjadi salah satu favorit penonton dan juri, sehingga tidak heran bila akhirnya Bima menjadi juara 3 mendapatkan medali perunggu. Suatu hasil yang begitu memuaskan setelah perjuangan berat yang dilakukan Bima selama ini.

Untuk Bima pribadi kemenangan inilah yang dicari karena Bima masih dalam masa pembentukan identitas diri. Namun bagi kami bukan kemenangan itu yang kami dapatkan, namun kemenangan akan diri Bima untuk keluar dari rendah dirinya, kemenangan Bima untuk memahami kelebihan dan kekurangan dirinya. Itu semua tidak mungkin didapatkan oleh Bima tanpa cobaan dan ketegangan yang mungkin sengaja diciptakan Allah bagi Bima. Seperti pepatah mengatakan: "Orang yang kuat itu bukanlah yang dapat mengalahkan orang lain, tetapi yang dapat mengalahkan dirinya sendiri".

Jalan masih panjang nak, teruslah berjuang untuk mencapai kemenangan dalam hidupmu.

(Ayah & Ibu)

Foto-foto tentang Bima di FLS2N bisa dilihat di sini.
Labels: |
Sukmalanu


Asyiiiik...!! "Kids Film Festival" digelar lagi! Ini ketiga kalinya film festival ini diadakan, berkat idealisme dari Kalyana Shira Foundation. Seger rasanya bila nonton film-film di festival ini. Film anak-anak yang bergizi!

Daripada eneg lihat film hantu dan lainnya yang nggak karuan bersliweran di bioskop Indonesia, hayuuuk kita nonton film-film ini.

Oya Bima Anggara my man menjadi salah 1 juri anak dari 3 anak yang dipilih oleh teh Nia Dinata dari Kalyana Shira Foundation melalui sebuah seleksi (lihat tulisan ini).

Detil info klik web ini: http://www.kidsffest.org/

Labels: |
Sukmalanu
Hari itu 15 Januari 2011 adalah hari yang Saya tunggu sejak lama. Lama tidak berkecimpung di dunia sosial membuat Saya seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa saat menginjakkan kaki di RSCM bangsal anak. Untungnya semua teman-teman di KPBA (Kelompok Pecinta Bacaan Anak) adalah teman-teman yang sangat kooperatif dan memaklumi keluguan Saya.

Sudah sangat lama jiwa Saya ini tidak diajak berkelana melihat sisi lain kehidupan. Rasanya 20 tahun lalu adalah waktu terakhir jiwa Saya berkelana menyelami kehidupan lain di tempat-tempat yang jauh dari kenyataan hidup Saya seperti daerah kumuh tempat gelandangan, Rumah Sakit Jiwa sampai dengan daerah pelacuran, yang merupakan bagian dari proses belajar Saya sebagai mahasiswa Psikologi. Suatu pengalaman jiwa dan batin yang tidak pernah Saya alami lagi begitu Saya menjejakkan kaki di dunia profesional di Jakarta.

Maka dari itu, begitu kaki Saya melangkah memasuki bangsa anak di RSCM, batin Saya mulai bergelora, memunculkan kembali sensasi-sensasi yang terkubur selama 20 tahun. Begitu mata Saya menatap Nafa dan teman-temannya, semua sensasi itu bercampuk aduk tidak karuan. Jujur,nyaris Saya tidak bisa menguasai diri untuk menjadi pendongeng di hari itu.

Untungnya Saya termasuk orang yang punya kontrol diri baik, sehingga dalam waktu pendek Saya bisa menenangkan diri dan memilih untuk “mengekor” mbak Rika yang mengajak Nafa untuk bermain origami. Setelah belajar dari kematangan mbak Rika menguasai diri dan juga “menguasai” Nafa, Saya baru berani melangkahkan kaki pindah ke ranjang lain. Pilihan Saya tidak banyak karena anak-anak lain banyak yang sedang tidur dan sebagian lagi sedang asyik dengan Irma. Akhirnya ranjang di pojok dimana seorang gadis kecil yang tidak tampak terlalu parah sakitnya menjadi teman Saya untuk mendongeng. Maaf Saya lupa namanya.

Proses mendongeng berjalan lancar, karena secara fisik gadis kecil ini sedang fit dan mampu berkomunikasi 2 arah dengan baik. Pertama Saya menawarkan 2 buku yang Saya bawa, dan gadis ini memilih “Mengapa Udang bengkok”. Saya mencoba mempraktekkan apa yang disarankan Mas Agus dan Mbak Rika selama membawakan cerita tersebut. Si gadis kecil ini sangat tertarik dengan gambar-gambar di buku yang memang penuh warna. Jujur, menurut Saya gadis ini lebih tertarik pada buku dibandingkan pada cara Saya yang bercerita, karena cara Saya bercerita memang masih sangat lemah.

Sebetulnya Saya hanya merencanakan untuk membawakan 1 cerita untuk gadis kecil ini, tetapi berhubung si gadis kecil ini tampak tertarik dengan buku lain yang Saya bawa, akhirnya Saya pun kembali bercerita menggunakan buku tersebut. Ternyata gadis kecil ini sangat suka dengan isi buku tersebut. Saya sendiri baru satu kali itu membacakan buku kecil yang merupakan salah satu buku dari kumpulan buku yang ditulis Ibu Murti. Isinya tentang anak ayam, dan tujuannya melatih berhitung. Gadis kecil itu dengan asyik mengikuti ajakan Saya menghitung jumlah ayam dalam setiap lembar buku tersebut.

Setelah selesai dengan gadis kecil ini, Saya merasa lebih mantap dalam melangkahkan kaki ke ranjang-ranjang lainnya. Sayangnya anak-anak lain masih tertidur, dan pilihan Saya hanyalah mengikuti teman-teman KPBA yang sedang membacakan cerita. Kali ini Saya memilih untuk mengekor ibu Kis yang sedang bercerita pada 2 anak sekaligus di 2 ranjang yang bersebelahan.

Singkat kata, perjalanan jiwa Saya di bangsal anak RSCM itu pun berakhir dengan berbagai macam perasaan yang tercampur aduk. Bagi Saya hal ini adalah salah satu vitamin yang memang Saya cari, yang sudah terlalu lama tidak Saya dapatkan. Sesampainya di rumah, sembari melakukan persiapan untuk perjalanan ke Makassar dan Palu (keesokan harinya Saya harus tugas ke luar kota), bayangan Nafa dan teman-temannya masih meloncat-loncat dalam pemikiran Saya. Demikian juga saat Saya menatap gumpalan awan melalui kaca pesawat, bayangan mereka masih tampak jelas, dan terasa memanggil Saya untuk kembali ke bangsal tersebut.

Terima kasih untuk Ibu Murti yang memberikan kesempatan ini, juga kepada mbak Rika, Bu Kis, Irma, dan Afif yang mau berbagi pengalaman dan memaklumi keluguan Saya di hari itu. Semoga di kemudian hari tidak hanya Saya yang bisa mencicipi pengalaman luar biasa ini. Suatu saat, dimana ananda Bima siap menghadapi kenyataan hidup di bangsal itu, Saya akan mengajak Bima untuk melihat sisi lain kehidupan. Amin.



Catatan: KPBA adalah Kelompok Pecinta Bacaan Anak yang sudah melakukan aktivitas menemani pasien anak-anak di bangsal anak RSCM ini selama belasan tahun. Ini adalah web KPBA: http://www.kpba-murti.org/

Labels: |
Sukmalanu
From Avanti Sukma 2010. Thanks to Caccamo fam to bring Ava there to see those beatiful city.

Labels: |
Sukmalanu

(Photo by Sunu Tri Widada 2009, Kuta-Bali)



Sebuah akhir perjalanan
terkadang melegakan namun
terkadang juga menyesakkan.

Tetesan keringat, peluh dan darah
selama 365 hari menjadi
penentu rasa yang muncul
di setiap akhir perjalanan.

Ada yang datang, ada yang pergi.
Ada awal, ada akhir.

Apa pun rasa yang muncul,
alangkah baiknya bila kita menerimanya
sebagai langkah baru
untuk memulai sesuatu yang baru.

Karena akhir berarti
awal yang baru.


(Wise words by Wulan Dewi 2010)
Labels: |